Memahami Capaian Pembelajaran (CP) pada Kurikulum Merdeka

Memahami Capaian Pembelajaran (CP) pada Kurikulum Merdeka
Bahasan mengenai capaian pembelajaran atau CP pada Kurikulum Merdeka. Kurikulum merdeka yang merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase, dimulai dari fase fondasi pada PAUD dibahas secara menyeluruh di sini.
 
Halo sahabat Gurnulis, bagaimana kabar pembelajaran yang sahabat lakukan di kelas? Berlangsung lancar, bukan? Pada kesempatan yang baik ini penulis ingin berbagi informasi mengenai Kurikulum Merdeka, fokusnya pada bahasan Capaian Pembelajaran (CP). Ayo kita berliterasi.

Apa itu Capaian Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka?

Capaian pembelajaran (CP) pada Kurikulum Merdeka adalah pengetahuan,  keterampilan, dan sikap yang dirangkaikan sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh dari suatu mata pelajaran. Pada satuan PAUD, Capaian Pembelajaran atau CP didesain untuk membangun kesenangan belajar dan kesiapan bersekolah anak.
 
Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase, dimulai dari fase fondasi pada PAUD. Jika diumpamakan dengan sebuah perjalanan berkendara, Capaian Pembelajaran (CP) ini memberikan  tujuan umum dan ketersediaan waktu yang  tersedia untuk mencapai tujuan tersebut (fase). Untuk mencapai garis finish, pemerintah membuatnya ke dalam enam etape yang disebu fase.

Apakah Capaian Pembelajaran (CP) menggantikan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)?

Jawabannya adalah TIDAK. Capaian Pembelajaran (CP) pada Kurikulum Merdeka bukan pengganti SKL ataupun STPPA. Dalam kerangka kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP) kedudukannya di bawah Standar Nasional Pendidikan (SNP).
 
Capaian Pembelajaran (CP) kedudukannya setara dengan Kompetensi Inti (KI) - Kompetensi Dasar (KD) dalam Kurikulum 2013. 
 

Apakah acuan ukuran kompetensi lulusan pada Kurikulum Merdeka?

Pada Kurikulum Merdeka, acuan ukuran kompetensi lulusan adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL), bukan  Capaian Pembelajaran (CP).
 

Mengapa Capaian Pembelajaran (CP) mengintegrasikan kembali keterampilan, pengetahuan, dan sikap?

Capaian Pembelajaran (CP) berisikan kompetensi. Kompetensi adalah rangkaian dari pengetahuan, keterampilan, disposisi (sikap) tentang ilmu pengetahuan, dan sikap terhadap proses belajar (dorongan untuk belajar dan motivasi untuk menggali konsep lebih dalam). Dengan demikian, keterampilan, pengetahuan, dan sikap tidak sepatutnya dipisahkan dalam Capaian Pembelajaran (CP) pada Kurikulum Merdeka.

Bagaimana penyusunan kompetensi yang ingin dicapai pada Capaian Pembelajaran (CP)?

Dalam Capaian Pembelajaran (CP), kompetensi yang ingin dicapai ditulis dalam bentuk paragraf yang memadukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau disposisi untuk belajar. Sementara karakter dan kompetensi umum yang ingin dikembangkan dinyatakan dalam profil pelajar Pancasila secara terpisah. Dengan dirangkaikan sebagai paragraf, ilmu pengetahuan yang dipelajari peserta didik menjadi suatu rangkaian yang berkaitan.

Teori belajar apa yang menjadi rujukan bagi Capaian Pembelajaran (CP)?

Capaian Pembelajaran (CP) dirancang dengan banyak merujuk kepada teori belajar Konstruktivisme dan pengembangan kurikulum dengan pendekatan Understanding by Design (UbD) yang dikembangkan oleh Wiggins & Tighe (2005).
 
Dalam kerangka teori ini, “memahami” merupakan kemampuan yang dibangun melalui proses dan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat menjelaskan, menginterpretasi dan mengaplikasikan informasi, menggunakan berbagai perspektif, dan berempati atas suatu fenomena. Dengan demikian, pemahaman bukanlah suatu proses kognitif yang sederhana atau proses berpikir tingkat rendah. 
 

Bukankah pada taksonomi Bloom "memahami" dianggap sebagai proses berpikir tingkat rendah?

Memang apabila merujuk pada Taksonomi Bloom, "pemahaman" dianggap sebagai proses berpikir tahap yang rendah atau level C2. Namun demikian, konteks Taksonomi Bloom sebenarnya digunakan untuk perancangan pembelajaran dan asesmen kelas yang  lebih operasional, bukan untuk CP yang  lebih abstrak dan umum. Taksonomi Bloom lebih sesuai digunakan untuk menurunkan/ menerjemahkan CP ke tujuan pembelajaran yang lebih konkret.

Terdiri dari apakah naskah Capaian Pembelajaran (CP) itu?

Naskah Capaian Pembelajaran (CP) terdiri atas rasional, tujuan, karakteristik, dan capaian per fase.
 
Rasional pada Capaian Pembelajaran (CP) menjelaskan alasan pentingnya mempelajari mata pelajaran tersebut serta kaitannya dengan profil pelajar Pancasila.
 
Tujuan pada Capaian Pembelajaran (CP) menjelaskan kemampuan atau kompetensi yang dituju setelah peserta didik mempelajari mata pelajaran tersebut secara keseluruhan.
 
Karakteristik pada Capaian Pembelajaran (CP) menjelaskan apa yang dipelajari dalam mata pelajaran tersebut, elemen-elemen atau domain (strands) yang membentuk mata pelajaran dan berkembang dari fase ke fase.
 
Capaian per fase pada Capaian Pembelajaran (CP) disampaikan dalam dua bentuk, yaitu secara keseluruhan dan capaian per fase untuk setiap elemen. Oleh karena itu, penting untuk pendidik mempelajari CP untuk mata pelajarannya secara menyeluruh.


Mengapa Capaian Pembelajaran (CP) disusun per fase?

Penyusunan Capaian Pembelajaran (CP) per fase merupakan upaya penyederhanaan sehingga peserta didik dapat memiliki waktu yang memadai dalam menguasai kompetensi.
 
Penyusunan Capaian Pembelajaran (CP) per fase ini  memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan tingkat pencapaian (Teaching at the Right Level), kebutuhan, kecepatan, dan gaya belajar mereka. Penyusunan Capaian Pembelajaran (CP) dengan memperhatikan fase-fase perkembangan anak ini memungkinkah guru dan satuan pendidikan memperoleh keleluasaan dalam menyesuaikan pembelajaran sehingga selaras dengan kondisi dan karakteristik peserta didik.
 

Bagaimana contoh pemanfaatan fase-fase Capaian Pembelajaran (CP) dalam perencanaan pembelajaran?

Berikut ini adalah beberapa contoh pemanfaatan fase-fase Capaian Pembelajaran dalam perencanaan pembelajaran:
  • Pembelajaran yang fleksibel. Ada kalanya proses belajar berjalan lebih lambat pada suatu periode (misalnya, ketika pembelajaran di masa pandemi COVID-19) sehingga dibutuhkan waktu lebih panjang untuk mempelajari suatu konsep. Ketika harus “menggeser” waktu untuk mengajarkan materi-materi pelajaran yang sudah dirancang, pendidik memiliki waktu lebih panjang untuk mengaturnya.
  • Pembelajaran yang sesuai dengan kesiapan peserta didik. Fase belajar seorang peserta didik menunjukkan kompetensinya, sementara kelas menunjukkan kelompok (cohort) berdasarkan usianya. Dengan demikian, ada kemungkinan peserta didik berada di kelas III SD, namun belajar materi  pelajaran untuk Fase A (yang umumnya  untuk kelas I dan II) karena ia belum tuntas mempelajarinya. Hal ini berkaitan dengan mekanisme kenaikan kelas yang disampaikan dalam Bab VII (Mekanisme Kenaikan Kelas dan Kelulusan).
  • Pengembangan rencana pembelajaran yang kolaboratif. Satu fase biasanya lintas kelas, misalnya CP Fase D yang berlaku untuk Kelas VII, VIII, dan IX. Saat merencanakan pembelajaran di awal tahun ajaran, guru kelas VIII perlu berkolaborasi dengan guru kelas VII untuk mendapatkan informasi tentang sampai mana proses belajar sudah ditempuh peserta didik di kelas VII. Selanjutnya ia juga perlu berkolaborasi dengan guru kelas IX untuk menyampaikan bahwa rencana pembelajaran kelas VIII akan berakhir di suatu topik atau materi tertentu, sehingga guru kelas IX dapat merencanakan pembelajaran berdasarkan informasi tersebut.
 

Bagaimana pembagian fase pada setiap kelas atau jenjangnya?

Berikut adalah pembagian fase dari setiap kelas atau jenjang satuan pendidikan.
  • Fase fondasi untuk kelas atau jenjang PAUD.
  • Fase A untuk kelas I-II SD/ MI.
  • Fase B untuk kelas III-IV SD/ MI.
  • Fase C untuk kelas V-VI SD/ MI.
  • Fase D untuk kelas VII-IX SMP/ MTs.
  • Fase E untuk kelas X SMA/ SMK/ MA/ MAK.
  • Fase F untuk kelas XI-XII SMA/ MA/ MAK, kelas XI-XII SMK Program 3 tahun, dan kelas XI-XII SMK program 4 tahun.

Referensi apa yang dapat digunakan untuk mendukung Capaian Pembelajaran (CP)?

Sebagai referensi, kepala sekolah maupun pendidik dapat menggunakan buku teks, buku panduan, dan modul ajar yang telah diterbitkan oleh Kemendikbudristek. Pada satuan PAUD, buku panduan guru terdiri dari buku panduan pengembangan pembelajaran, elaborasi masing-masing elemen Capaian Pembelajaran (CP), pengembangan pembelajaran berbasis buku cerita (untuk penguatan literasi dini), dan projek pengembangan profil pelajar Pancasila.

Bagaimana cara mudah memahami Capaian Pembelajaran (CP) pada Kurikulum Merdeka?

Sahabat Gurnulis, memahami Capaian Pembelajaran (CP) adalah langkah pertama yang sangat penting. Setiap pendidik perlu familiar dengan apa yang perlu mereka ajarkan, terlepas dari apakah mereka akan mengembangkan kurikulum, alur tujuan pembelajaran, atau silabusnya sendiri atau tidak.
 
Beberapa contoh pertanyaan reflektif yang dapat digunakan untuk memandu guru dalam memahami Capaian Pembelajaran (CP) adalah sebagai berikut.
  • Kompetensi apa saja yang perlu dimiliki  peserta didik untuk sampai di capaian  pembelajaran akhir fase?
  • Kata-kata kunci apa yang penting dalam CP?
  • Apakah ada hal-hal yang sulit saya pahami?
  • Apakah capaian yang ditargetkan sudah biasa saya ajarkan?

Bagaimana cara memunculkan ide-ide pengembangan rancangan pembelajaran berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP)?

Untuk memunculkan ide-ide pengembangan rancangan pembelajaran berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP), pendidik dapat menggunakan bantuan pertanyaan-pertanyaan berikut.
  • Bagaimana capaian dalam fase ini akan dicapai anak didik?
  • Materi apa saja yang akan dipelajari dan seberapa luas serta mendalam?
  • Proses belajar seperti apa yang akan  ditempuh peserta didik?

Beberapa catatan penting tentang Capaian Pembelajaran (CP) untuk jenjang PAUD, SMK, Pendidikan Kesetaraan, dan Pendidikan Khusus

Pada jenjang PAUD, Capaian Pembelajaran (CP) bertujuan untuk memberikan arah yang sesuai dengan usia perkembangan pada semua aspek perkembangan anak sehingga kompetensi pembelajaran yang diharapkan dicapai anak pada akhir PAUD dapat dipahami dengan jelas agar anak siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Lingkup Capaian Pembelajaran (CP) pada jenjang PAUD dikembangkan dari aspek-aspek perkembangan anak, yaitu:
  1. nilai  agama dan moral,
  2. fisik motorik, kognitif, sosial emosional, bahasa; dan
  3. nilai Pancasila; serta bidang-bidang lain untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan kebutuhan pendidikan Abad 21 di Indonesia.
Tiga elemen stimulasi yang dapat dipakai untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan peserta didik PAUD tersebut adalah:
  1. nilai agama dan budi pekerti;
  2. jati diri; dan
  3. dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni.
 
Pada jenjang SMK terdapat beberapa kekhasan. Pendidik dapat melakukan analisis CP mata pelajaran kejuruan SMK bersama dengan mitra dunia kerja. Pada jenjang SMK terdapat program empat tahun sebagaimana tercantum dalam daftar konsentrasi keahlian yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pada program empat tahun pembelajaran diselenggarakan hingga kelas XIII mata pelajaran yang diajarkan pada kelas XIII adalah: Matematika, Bahasa Inggris, dan Praktik Kerja Lapangan. Capaian Pembelajaran fase F berlaku pada pada mata pelajaran yang diajarkan hingga kelas XIII.

Pada Pendidikan Kesetaraan, penyusunan alur tujuan pembelajaran memperhatikan alokasi waktu didasarkan pada pemetaan Satuan Kredit Kompetensi (SKK) yang ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan bentuk pembelajaran tatap muka, tutorial, mandiri ataupun kombinasi secara proporsional dari ketiganya. Capaian pembelajaran pada mata pelajaran kelompok umum, mata  pelajaran pemberdayaan, dan mata  pelajaran keterampilan mengacu pada capaian pembelajaran yang ditetapkan oleh Pemerintah. Satuan pendidikan dapat mengembangkan capaian pembelajaran pada mata pelajaran keterampilan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik, lingkungan belajar dan satuan pendidikan.

Pada Pendidikan Khusus, pembagian fase didasarkan pada usia mental peserta didik. Bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan hambatan intelektual, dapat menggunakan Capaian Pembelajaran (CP) pendidikan khusus. Capaian Pembelajaran (CP) pada peserta didik berkebutuhan khusus dengan hambatan intelektual dapat dilakukan lintas fase dan lintas elemen, sesuai dengan kondisi, kemampuan, hambatan dan kebutuhan. Sementara peserta didik berkebutuhan khusus tanpa hambatan intelektual menggunakan Capaian Pembelajaran (CP) reguler dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum. Di bawah ini adalah rumusan fase capaian pembelajaran pada Pendidikan Khusus.

Referensi

Bahasan mengenai Capaian Pembelajaran (CP) pada Kurikulum Merdekaini terdapat dalam panduan pembelajaran dan asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah yang diterbitkan oleh Kemendibudristek. File-nya dapat sahabat Gurnulis unduh pada tautan berikut.
 

Penutup

Demikianlah bahasan mengenai cara memahami Capaian Pembelajaran (C)P) ya, sahabat Gurnulis. Semoga bermanfaat. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Memahami Capaian Pembelajaran (CP) pada Kurikulum Merdeka"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel