Kaidah Penulisan Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak

Kaidah Penulisan Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak - www.gurnulis.id
Tata cara penulisan soal benar-salah dan ya-tidak di SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK
Assalamualaikum sahabat Gurnulis. Apakah sahabat masih menunggu pembaruan artikel dari Gurnulis? Alhamdulillah ya, sampai saat ini penulis masih berkesempatan untuk memperbarui artikel. Sebelumnya penulis telah membahas kaidah penulisan soal ya, tepatnya kaidah penulisan soal pilihan ganda, kaidah penulisan soal uraian, dan kaidah penulisan soal isian dan jawaban singkat. Pada kesempatan ini penulis masih hendak berbagi informasi tetang kaidah penulsian soal. Tepatnya kaidah penulisan soal benar-salah atau ya-tidak. Yuk, kita sama-sama belajar.
 
Sebelumnya, penulis singgung terlebih dahulu dasar hukum dari penulisan soal benar-salah dan ya-tidak, ya. Penulisan soal di satuan pendidikan, baik di SD ataupun MI, SMP ataupun MTs, SMA ataupun MA, dan SMK berpegangan pada Peraturan Menteri dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Pada permendikbud tersebut disebutkan bahwa lingkup penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah terdiri dari penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Aspek penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik sendiri terdiri dari penilaian aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. Pada kesempatan ini kita berfokus pada penilaian aspek pengetahuan dengan teknik pengukuran menggunkan tes tertulis yang berupa soal.
 
Sekarang kita masuk pada bahasan soal tes tertulis. Soal tes tertulis terdiri dari dua jenis, yaitu sebagai berikut.
  1. Soal yang tersedia pilihan jawabannya. Soal dengan jenis ini memiliki opsi yang harus dipilih oleh peserta didik. Contoh dari soal yang tersedia pilihan jawabannya adalah soal pilihan ganda, soal dua pilihan jawaban (berupa soal benar-salah dan soal ya-tidak), dan soal menjodohkan.
  2. Soal yang tidak tersedia pilihan jawabannya. Soal dengan jenis ini tidak memiliki opsi jawaban yang dapat dipilih oleh peserta didik. Contoh dari soal yang tidak tersedia pilihan jawabannya adalah soal isian dan jawaban singkat dan soal uraian.
 
Nah, sesuai dengan judul artikel, kita memfokuskan diri pada bahasan soal benar-salah atau ya-tidak ya, sahabat pendidik. Kita mulai dari pengertiannya.
 

Pengertian Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak

Soal benar-salah dan ya-tidak adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memilih dua kemungkinan jawaban. Peserta tes diminta memilih jawaban benar/salah ataupun ya/tidak pada pernyataan yang disajikan.
 

Kelebihan dan Kekurangan Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak

Soal benar-salah dan ya-tidak memiliki kelebihan sebagai berikut.
  1. Dapat mengukur berbagai jenjang kemampuan kognitif.
  2. Materi yang diujikan dapat mencakup lingkup materi yang luas.
  3. Jawaban peserta didik dapat diskor dengan mudah, cepat, dan objektif.
 
Di samping memiliki kelebihan, soal dengan jenis benar-salah ataupun ya-tidak memiliki beberapa kekurangan. Berikut kekurangan soal benar-salah dan ya-tidak.
  1. Probabilitas menebak dengan benar adalah besar, yaitu 50%, karena pilihan  jawabannya hanya dua, benar/salah dan ya/tidak.
  2. Bentuk soal ini tidak dapat digunakan untuk menanyakan sesuatu konsep secara utuh karena peserta tes hanya dituntut menjawab benar/salah dan ya/tidak.
 

Kaidah Penulisan Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak

Penulisan soal benar-salah dan ya-tidak harus memperhatikan serangkaian kaidah. Kaidah tersebut meliputi kaidah dari segi materi soal, kaidah dari segi segi konstruksi soal, dan kaidah dari segi bahasa soal.
 
Kaidah dari Segi Materi Soal
Dari segi materi soal, penulisan soal benar-salah dan ya-tidak harus memperhatikan hal-hal berikut.
  1. Konsep pada soal harus benar dan mutakhir (perkembangan terbaru) serta tidak  multitafsir.
  2. Soal harus sesuai dengan indikator pada kisi-kisi penulisan yang telah disusun.
  3. Soal harus logis ditinjau dari segi materi.
 

Kaidah dari Segi Konstriksi Soal

  1. Dari segi konstruksi soal, penulisan soal benar-salah dan ya-tidak harus memperhatikan hal-hal berikut. Soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
  2. Soal merupakan pernyataan yang berkaitan dengan materi yang diukur.
  3. Soal tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar maupun salah.
  4. Soal tidak mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
  5. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas  dan berfungsi.
 

Kaidah dari Segi Bahasa Soal

Dari segi bahasa soal, penulisan soal benar-salah dan ya-tidak harus memperhatikan hal-hal berikut.
  1. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia.
  2. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
  3. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat, terutama jika soal akan  digunakan untuk daerah lain atau nasional.
 

Hal-hal Penting Lain yang Harus Diperhatikan

Selain ketiga kategori kaidah di atas, masih ada hal-hal penting lain yang harus diperhatikan dalam penulisan soal benar-salah dan ya-tidak. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Gambar, kalimat atau slogan tidak mengandung unsur iklan promosi produk komersial (iklan) atau instansi (nama sekolah, nama wilayah).
  2. Tidak menggunakan nama tokoh yang masih hidup dalam soal karena dapat diinterpretasikan mempromosikan tokoh tersebut.
  3. Ilustrasi soal tidak mengandung unsur SARA, kekerasan, p0rnografi, politik, ataupun konten yang dapat menimbulkan dampak negatif.
  4. Gambar, teks atau kutipan sebaiknya dituliskan sumber asalnya.
  5. Tata letak gambar diusahakan konsisten.
 

Contoh Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak

Berikut adalah contoh soal benar-salah dan ya-tidak.
Silanglah huruf B jika pernyataan benar dan silang huruf S bila salah!
Perhatikan gambar pelangi berikut!
Kaidah Penulisan Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak - www.gurnulis.id
Kaidah Penulisan Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak - www.gurnulis.id

Kunci Jawaban:
1. B;
2. S;
3. S.
 
Penjelasan
  • Pada soal nomor 1 peserta didik diminta untuk menentukan benar atau salahnya pernyataan “Warna-warni pelangi terbentuk akibat pembiasan dari sinar  matahari oleh titik-titik air hujan”. Jika benar, maka dinyatakan dengan “B” dan jika salah dinyatakan dengan “S”.
  • Pada soal nomor 2 peserta didik diminta untuk menentukan benar atau salahnya pernyataan “Sinar ungu memiliki panjang gelombang paling besar dibandingkan dengan sinar warna lainnya”. Jika benar, maka dinyatakan dengan “B” dan jika salah dinyatakan dengan “S”.
  • Pada soal nomor 3 peserta didik diminta untuk menentukan benar atau salahnya pernyataan “Jumlah warna pelangi selalu 7 macam dengan urutan warna dapat berubah-ubah”. Jika benar, maka dinyatakan dengan “B” dan jika salah dinyatakan dengan “S”.
 
Bagaimana dengan contoh soal ya-tidak? Soal dengan tipe ya-tidak mirip dengan soal benar-salah di atas. Tidak ada perbedaan yang spesifik.
 
Demikianlah bahasan mengenai kaidah penulisan soal benar-salah dan ya-tidak. Artikel ini ditulis berdasarkan Panduan Penilaian Tes Tertulis yang diterbitkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai berikut.
Kaidah Penulisan Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak - www.gurnulis.id

Semoga bermanfaat. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Kaidah Penulisan Soal Benar-Salah dan Ya-Tidak"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel