Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Model Pembelajaran Cooperative Learning - www.gurnulis.id
Bahasan mengenai model pembelajaran cooperative learning atau pembelajaran kooperatif yang terdiri dari pengertian, pentingnya, tujuan, unsur-unsur, kelompok-kelompok, dan jenis-jenis cooperative learning.
 
Halo Sahabat Gurnulis. Penulis memiliki bahasan yang menarik kali ini. Penulis hendak mengupas model pembelajaran cooperative learning atau pembelajaran kooperatif. Yuk, sama-sama kita pahami.
 

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Coopeative Learning Model)

Model pembelaran kooperatif atau cooperative learning model adalah salah satu bentuk pembelajaran yang mengikuti paham konstruktivisme. Secara filosofis, menurut teori konstruktivisme, belajar didefinisikan sebagai kegiatan membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
 
Slavin menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus terlibat aktif dan menjadi pusat kegiatan pembelajaran di kelas. Guru dapat memfasilitasi proses ini dengan mengajar menggunakan cara-cara yang membuat sebuah informasi menjadi bermakna dan relevan bagi siswa. Untuk itu, guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau mengaplikasikan ide-ide mereka sendiri, di samping mengajarkan siswa untuk menyadari dan sadar akan strategi belajar mereka sendiri.

Pola pikir model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning model didasarkan pada fakta manusia mempunyai perbedaan dan dengan perbedaan itu manusia dapat saling asah, asih, asuh (saling mencerdaskan). Dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif (cooperative learning model) diharapkan terwujud interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya terpaku belajar pada guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat
 
Istilah cooperative sering dimaknai dengan acting together with a common purpose (tindakan bersama dengan tujuan bersama). Istilah ini mengandung pengertian bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Ada juga yang mendefinisikan istilah cooperative sebagai belajar kelompok atau bekerja sama atau biasa dikatakan sebagai cara individu mengadakan relasi dan bekerja sama dengan individu lain untuk mencapai tujuan bersama.
 
Slavin mengungkapkan pendapatnya sebagai berikut.
Cooperative learning refer to a varaiaty of teaching methods in which students work in small groups to help one another learn academic content.
Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah suatu model pembelajaran di mana pembelajarannya berorientasi pada tujuan tiap individu menyumbang pencapaian tujuan individu lain guna mencapai tujuan bersama. Dengan kata lain, pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah bentuk pembelajaran yang menggunakan pendekatan melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dan memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Dalam belajar kooperatif, siswa tidak hanya mampu dalam hal menerima materi, tetapi juga mampu memberi dampak afektif seperti gotong royong kepedulian sesama teman dan lapang dada. Sebab, pembelajaran kooperatif (cooperative learning) berupaya melatih para siswa untuk mendengarkan pendapat orang lain. Tugas kelompok akan dapat memacu siswa untuk bekerja secara bersama sama dan saling membantu satu sama lain dalam mengintegrasikan pengetahuan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. 
 
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) berbeda dengan pembelajaran kolaboratif (collaborative learning). Pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) adalah pembelajaran yang di dalamnya terdapat dua atau lebih orang belajar secara bersama-sama, dengan memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain (meminta informasi satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama lain, memantau pekerjaan satu sama lain, dan lain-lain). Sementara, pembelajaran kooperatif (cooperative learning) secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran yang didesain untuk membantu siswa agar dapat berinteraksi dan bekerja sama secara kolektif, melalui tugas-tugas terstruktur guna mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran. kooperatif dikembangkan ke dalam berbagai teknik, seperti Think Pair Share, Jigsaw, STAD, TGT, dan sebagainya.

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dalam pelaksanaannya dapat membantu siswa meningkatkan sikap positif mereka dalam materi pelajaran. Para siswa secara individu membangun kepercayaan diri sendiri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diberikan sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap suatu materi pelajaran. J. Johson dan Johson menerangkan hasil penelitian bahwa belajar kooperatif (cooperative learning) akan mendorong siswa belajar lebih banyak materi pelajaran, merasa lebih nyaman dan termotivasi lebih banyak materi pelajaran, merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk belajar, mencapai hasil belajar yang tinggi, memiliki kemampuan yang baik untuk berpikir secara kritis, memiliki sikap positif terhadap objek studi, menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam aktivitas kerja sama, memiliki aspek psikologis yang lebih. sehat, dan mampu menerima perbedaan yang ada di antara teman satu kelompok.

Pada dasarnya, pembelajaran kelompok (cooperative learning) ini mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau prilaku kerja sama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan setiap anggota kelompok itu sendiri. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) ini lebih dari sekadar belajar kelompok karena pembelajaran ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota kelompok. Dari sini dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik dan juga kompetensi sosial peserta didik.
 
Inti pembelajaran kooperatif (cooperative learning) ini adalah konsep sinergi, yakni energi atau tenaga yang terhimpun melalui kerja sama sebagai salah satu fenomena kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa model pembelajaran ini melatih para siswa untuk bekerja sama dalam belajar seperti halnya anggota masyarakat. Strategi pembelajaran seperti ini penerapannya beranjak dari konsep Dewey sebagai berikut.
Classroom should mirror the large society and be a laboratory for real life learning.
Pernyataan tersebut memiliki arti kelas seharusnya mencerminkan keadaan masyarakat luas dan menjadi laboratorium untuk belajar kehidupan nyata.

Jadi, model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerja sama atau gotong royong dalam pembelajaran yang menekankan terbentuknya hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya, terbentuknya sikap dan perilaku yang demokratis serta tumbuhnya produktivitas kegiatan belajar siswa. Dengan demikian, pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dapat digunakan untuk melatih kompetensi sikap, sosial, dan kepekaan terhadap orang lain, serta juga kolaborasi dengan orang lain.

Pentingnya Model Pembelajaran Kooperatif (Coopeative Learning Model)

Terdapat beberapa alasan penting mengapa cooperative learning atau pembelajaran kooperatif perlu diterapkan di sekolah-sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didiknya. Alasan utama adalah karena seiring dengan proses globalisasi, terjadi juga transformasi sosial, ekonomi, dan demografis yang mengharuskan sekolah-sekolah termasuk juga madrasah-madrasah untuk lebih menyiapkan peserta didik dengan keterampilan keterampilan hidup (life skill) bermasyarakat. Dengan demikian, mereka mampu berpartisipasi aktif dalam dunia yang cepat berubah dan berkembang pesat. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang asalan-alasan tersebut.
 

1. Alasan Transformasi Sosial

Transformasi sosial secara sederhana dapat dilihat dalam perubahan struktur keluarga. Semakin banyak anak yang dibesarkan dalam keluarga inti tanpa kehadiran dan pengasuhan penuh dari orangtua. Parahnya, seorang anak bisa meluangkan waktunya lebih banyak di depan televisi, bermain games dan play station daripada berbicara dengan ayah atau ibu mereka. Dengan kata lain, saat mata mereka terpaku pada layar kaca, hilanglah kesempatan untuk mengembangkan interaksi sosial dan kemampuan berkomunikasi anak.
 
Oleh karena itu, diperlukanlah pendidikan. Sebab, pendidikan tidak lagi hanya memperhatikan perkembangan kognitif saja, tetapi juga sisi moral dan sosialnya. Pendidikan harus memberikan banyak kesempatan untuk belajar berinteraksi dan bekerja sama dengan sesama.

2. Alasan Transformasi Ekonomi

Interdependence menjadi ciri transformasi ekonomi. Kemampuan individu akan menjadi hal yang sia-sia ketika tidak diimbangi dengan kemampuan bekerja sama. Kemampuan kerja sama ini akan menjadi modal penting untuk mencapai tujuan dan keberhasilan suatu usaha. Sebagai pendidik yang bertanggung jawab, guru harus merasa terpanggil untuk mempersiapkan anak didiknya agar bisa berkomunikasi dan bekerja sama dalam berbagai macam situasi sosial.

3. Alasan Transformasi Demografis

Transformasi demografis dicirikan dengan adanya urbanisasi. Kompetisi dan eksploitasi adalah bentuk konsekuensi hidup dalam masyarakat urban. Realitas menunjukkan bahwa urbanisasi memegang peranan dalam penciptaan homo homini lupus. Sekolah seharusnya bisa berbuat lebih banyak dalam mengubah arah evolusi nilai sosial. Sebagai rumah kedua, sekolah merupakan tempat untuk menanamkan sikap-sikap kooperatif dan mengajarkan cara-cara bekerja sama, dengan maksud untuk membentuk siswa menjadi homo homini socius.

Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif (Coopeative Learning Model)

Tujuan dari pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah untuk menciptakan situasi ketika keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Hal ini berbeda dengan tujuan pembelajaran konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Oleh karena itu, strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning) ini dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting. Ketiga tujuan pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut.

1. Hasil Belajar Akademik

Meskipun pembelajaran kooperatif (cooperative learning) ini mencakup beragam tujuan sosial serta memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya, beberapa penelitian dari tokoh cooperative learning (J. Johnson & Johnson, Slavin, Kagan, dan sebagainya) membuktikan bahwa model ini lebih unggul dalam membantu peserta didik dalam memahami konsep-konsep yang sulit dan dapat meningkatkan nilai (prestasi) peserta didik pada belajar akademik. Coperative learning atau pembelajaran kooperatif juga memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

2. Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu

Tujuan lain model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi peserta didik dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas akademik dan melalui penghargaan kooperatif siswa akan belajar menghargai satu sama lain.

3. Pengembangan Keterampilan Sosial

Tujuan ketiga adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki olah siswa sebagai bekal untuk hidup dalam lingkungan sosialnya.

Unsur-unsur Model Pembelajaran Kooperatif (Coopeative Learning Model)

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) memiliki unsur-unsur yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya sebagai berikut.
 

1. Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)

Ketergantungan positif ini bukan berarti peserta didik bergantung secara menyeluruh kepada peserta didik lainya. Jika mereka mengandalkan teman lain tanpa dirinya memberi ataupun menjadi tempat bergantung bagi sesamanya, hal itu tidak bisa dinamakan ketergantungan positif. Oleh karena itu, guru harus menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Perasaan saling membutuhkan inilah yang dinamakan positive interdependence. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui ketergantungan tujuan, tugas, bahan atau sumber belajar, peran, dan hadiah.
 

2. Akuntabilitas Individual (Individual Accountability)

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) menuntut adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan bahan belajar tiap anggota kelompok, dan diberi balikan (umpan balik) tentang prestasi belajar anggota-anggotanya sehingga mereka saling mengetahui rekan yang memerlukan bantuan. Berbeda dengan kelompok tradisional, akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering dikerjakan oleh sebagian anggota. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa harus bertanggung jawab terhadap tugas yang masing-masing anggota. diemban

3. Interaksi Promotif (Promotive Interaction)

Interaksi promotif menuntut semua anggota dalam kelompok belajar dapat saling tatap muka. Dengan demikian, mereka dapat berdialog tidak hanya dengan guru, tetapi juga bersama dengan teman. Interaksi semaca itu memungkinkan peserta didik menjadi sumber belajar bagi sesamanya Hal ini diperlukan karena mereka sering merasa lebih mudah belajar dari sesamanya dibandingkan dari guru.

4. Keterampilan Interpersonal dan Kelompok Kecil (Interpersonal and Small Skill)

Unsur keempat dari pembelajaran kooperatif adalah pembekalan berbagai interpersonal and small group skill, yakni kepemimpinan (leadership), membuat keputusan (decision making), membangun kepercayaan (trust building), kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan manajemen konflik (management conflict skill).
 
Keterampilan interpersonal lain, seperti tenggang rasa, sikap sopan kepada teman, mengkritik ide, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi yang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antarpribadi tidak hanya diasumsikan, tetapi secara sengaja diajarkan.

5. Proses Kelompok (Group Processing)

Proses ini terjadi ketika tiap anggota kelompok mengevaluasi sejauh mana mereka berinteraksi secara efektif untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok perlu membahas perilaku anggota yang kooperatif dan tidak kooperatif serta membuat keputusan perilaku mana yang harus diubah atau dipertahankan. Pemrosesan kelompok ini bisa berlangsung dalam grup kecil atau grup besar. 

Beberapa upaya kunci yang memungkinkan pemrosesan kelompok ini berjalan dengan baik di antaranya adalah:
  • menyediakan waktu yang memadai bagi setiap kelompok untuk melakukan pemrosesan tersebut;
  • menyajikan struktur dan prosedur yang sistematis untuk pemrosesan itu;
  • memberikan feedback yang positif;
  • membuat pemrosesan menjadi lebih spesifik;
  • mengawasi keterlibatan setiap anggota dalam pemrosesan kelompok mereka masing-masing;
  • mengingatkan mereka untuk menggunakan keterampilan kooperatifnya ketika pemrosesan berlangsung;
  • mengomunikasikan pada mereka tentang harapan dan tujuan diadakannya pemrosesan ini.

Kelompok-kelompok dalam Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif (Coopeative Learning Model)

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) mendorong terciptanya masyarakat belajar (learning community). Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerja sama dengan orang lain berupa sharing individu, antarkelompok dan antara yang tahu dan belum tahu. Masyarakat belajar mempunyai dorongan emosional dan intelektual yang memungkinkan peserta didik melampaui tingkat pengetahuan dan keterampilan mereka sekarang. Pengelompokan dalam strategi pembelajaran kooperatif menggunakan pengelompokan heterogen. Pengelompokan ini dibentuk dengan memerhatikan keanekaragaman, baik keanekaragaman gender, prestasi, latar belakang agama, sosio ekonomi, maupun etnik.
 
Ada tiga jenis kelompok dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai berikut.
 

1. Kelompok Informal (Informal Group)

Kelompok informal adalah kelompok yang bersifat sementara. Pengelompokan ini hanya digunakan dalam satu periode pengajaran. Kelompok ini biasanya hanya terdiri dari dua orang peserta didik. Tujuan kelompok informal adalah untuk menjelaskan harapan akan hasil yang ingin dicapai, membantu mereka untuk lebih fokus pada materi pembelajaran, memberi kesempatan pada peserta didik untuk bisa secara lebih mendalam memproses informasi yang diajarkan atau menyediakan waktu untuk melakukan pengulangan dan menjangkarkan informasi.

2. Kelompok Formal (Formal Group)

Kelompok formal digunakan untuk memastikan bahwa peserta didik mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Lamanya kelompok ini bekerja bisa selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tergantung pada tugas yang diberikan kepada mereka.

3. Kelompok Dasar (Base Group) 

Kelompok dasar atau kelompok permanen adalah pengelompokan dengan tenggang waktu yang lebih panjang (misalnya, selama satu semester atau satu tahun). Tujuannya adalah untuk memberi suatu dukungan yang berke lanjutan kepada peserta didik.

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan model belajar mengajar di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan tingkat kemampuan kognitif yang heterogen. Di samping itu, pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan salah satu pembelajaran yang didasarkan pada paham konstruktivisme. Pada pembelajaran kooperatif (cooperative learning), siswa percaya bahwa keberhasilan mereka akan tercapai jika dan hanya jika setiap anggota kelompoknya berhasil. Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai pengajaran gotong royong atau cooperatif learning. Sistem pendidikan gotong royong merupakan alternatif menarik yang dapat mencegah timbulnya keagresifan dalam sistem kompetisi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.

Jenis-jenis Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) memiliki jenis sebagai berikut.

Penutup

Demikianlah bahasan mengenai model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) ya Sahabat Gurnulis. Semoga bermanfaat. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel