Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning)

Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning) - www.gurnulis.id
Bahasan mengenai model pembelajaran inkuiri atau inquiry learning model yang terdiri dari pengertian, macam-macam, prosedur pelaksanaan, dan pentingya inkuiri.
 
Halo Sahabat Gurnulis. Kalau pada postingan yang lalu penulis telah membahas tentang model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), kini penulis hendak mengajak Sahabat berliterasi mengenai model pembelajaran inkuiri atau dalam bahasa Inggrisnya inquiry learning model. Ayo sama-sama kita simak.

Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning Model)

Model pembelajaran inkuiri (inquiry learning), merupakan salah satu model pembelajaran yang cukup terkenal. Inquiry berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta atau terlibat dalam mengajukan pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Model pembelajaran inkuiri (inquiry learning) bertujuan untuk memberikan cara bagi peserta didik untuk membangun kecakapan intelektual yang terkait dengan proses berpikir reflektif. Tujuan model pembelajaran inkuiri (inquiry learning) menurut Bruner adalah mengupayakan guru untuk memberikan kesempatan kepada siswanya untuk menjadi seorang problem solver, seorang saintis, ahli sejarah, penemu, atau ahli matematika. Melalui kegiatan tersebut peserta didik akan menguasai, menerapkan, dan menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. Karakteristik yang paling jelas mengenai inquiry sebagai model pembelajaran ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) pembelajaran, bimbingan guru hendaklah lebih berkurang daripada model-model pembelajaran lainnya. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan memberikan suatu bimbingan setelah problem disajikan kepada pelajar. Akan tetapi, bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya, tetapi diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri. Dalam hal ini, perlu dibutuhkan kesiapan dari peserta didik. Tanpa adanya kesiapan dari peserta didik, tujuan model pembelajaran inkuiri (inquiry learning) tidak dapat diwujudkan. Sebagai contoh. peserta didik mempunyai motivasi belajar yang lemah.
 
Suchman, sebagaimana dikemukakan oleh Noeng Muhadjir, menyamakan antara discovery, inquiry, dan problem solving, sedangkan Sund membedakan antara discovery dan inquiry.
 
Discovery menurut Sund adalah kegiatan mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip dengan mengamati berbagai hal di lingkungannya, anak mengasimilasikannya dengan konsep sapi, prinsip panas, prinsip jatuh, dan lainnya.
 
Inquiry menurut Sund meliputi pula discovery, tetapi mempunyai tingkat lebih tinggi. Dalam inquiry terdapat proses mental seperti merumuskan masalah, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data. menganalisis, dan membuat kesimpulan. Proses inkuiri selama pengajaran dan pembelajaran berdampak konstruktif yang memberi banyak peluang dan tenaga untuk meningkatkan keefektifan pengajaran dan pembelajaran. Uraian berikut menunjukkan dasar dari pernyataan ini: Inkuiri adalah mengajukan pertanyaan pertanyaan, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab dan mengantarkan pada pengujian dan eksplorasi bermakna.

Inkuiri (inquiry) adalah seni dan sains tentang mengajukan dan menjawab pertanyaan pertanyaan yang menghendaki pengamatan dan pengukuran, pengajuan hipotesis dan penafsiran, pembangunan dan pengujian model melalui eksperimen, refleksi, dan pengakuan atas kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari metode penyelidikan yang digunakan. Selama inkuiri, guru dapat mengajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, yang dapat bersifat open-ended, memberi peluang siswa untuk mengarahkan penyelidikan mereka sendiri dan menemukan jawaban-jawaban yang mungkin dari mereka sendiri, dan mengantar pada lebih banyak pertanyaan lain.

Inkuiri (inquiry) adalah apa yang dilakukan ilmuwan, yang berarti peserta didik para memiliki ruang, peluang, dan dorongan untuk bekerja (hands-on, minds-on, dan sosials-on) dalam cara formal dan sistematik yang teruji dan terulangi dalam membangun body of information yang bermakna. Dalam pengamalan sains sebagai inkuiri, peserta didik belajar bagaimana menjadi ilmuwan, tidak sekadar belajar melalui penghafalan atau pengulangan dan drill penerapan berulang body of facts and concepts. Inkuiri (inquiry) menyediakan peserta didik aneka ragam pengalaman konkret dan pembelajaran aktif yang mendorong, memberikan ruang, dan peluang kepada peserta didik untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
 
Inkuiri (inquiry) melibatkan komunikasi yang berarti tersedia suatu ruang, peluang, dan tenaga bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan yang logis, objektif, bermakna. Selain itu, berguna untuk melaporkan hasil-hasil kerja mereka. Inkuiri (inquiry) memungkinkan guru belajar tentang siapakah siswa mereka, apa yang siswa ketahui, dan bagaimana pikiran siswa mereka bekerja sehingga guru dapat menjadi fasilitator yang lebih efektif berkat adanya pemahaman guru mengenai siswa mereka. Selama inkuiri (inquiry), guru belajar untuk selalu menggigit lidahnya. Artinya, mengekang diri agar tidak memberikan terlalu banyak petunjuk, pertanyaan, dan jawaban karena hal itu akan merebut kesempatan siswa untuk belajar. Inkuiri menghendaki siswa untuk mengambil tanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri.
 
Sanjaya menyatakan ada beberapa hal yang menjadi ciri utama model pembelajaran inkuiri (inquiry learning).
  • Pertama, inkuiri (inquiry) menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya, pendekatan inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar.
  • Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Artinya, dalam model pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, melainkan sebagai fasilitator.
  • Ketiga, model pembelajaran inkuiri (inquiry learning) adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Akibatnya, dalam pembelajaran inkuiri peserta didik tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimiliki mereka.
 

Macam-macam Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning Model)

Beberapa macam model pembelajaran inkuiri (inquiry learning) yang dikemukakan oleh para ahli di antaranya sebagai berikut.

1. Guided Inquiry

Guided inquiry atau pembelajaran inkuiri terbimbing adalah suatu model pembelajaran inkuiri (inquiry learning) yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada peserta didik. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru. Peserta didik tidak merumuskan problema atau masalah. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) ini, guru tidak melepas begitu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik.

Guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada peserta didik dalam melakukan kegiatan-kegiatan. Dengan demikian, peserta didik yang beripikir lambat atau peserta didik yang mempunyai inteligensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan dan peserta didik mempunyai tinggi tidak memonopoli kegiatan. Oleh sebab itu, guru harus memiliki kemampuan mengelola kelas yang bagus.
 
Inkuiri terbimbing (guided inquiry) biasanya digunakan terutama bagi peserta didik yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Pada tahap-tahap awal pengajaran diberikan bimbingan lebih banyak. Bimbingan tersebut berupa pertanyaan-pertanyaan pengarah agar peserta didik mampu menemukan sendiri arah dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang disodorkan oleh guru. Pertanyaan-pertanyaan pengarah selain dikemukakan langsung oleh guru juga diberikan melalui pertanyaan yang dibuat dalam lembar kerja siswa maupun modul. Oleh sebab itu, lembar kerja dibuat khusus untuk membimbing peserta didik dalam melakukan percobaan dan menarik kesimpulan.
 

2. Modified Inquiry

Model pembelajaran inkuiri termodifikasi (modified inquiry) ini memiliki ciri guru hanya memberikan permasalahan tersebut melalui pengamatan, percobaan, atau prosedur penelitian untuk memperoleh jawaban. Di samping itu, guru merupakan narasumber yang tugasnya hanya memberikan bantuan yang diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam memecahkan masalah. Jika peserta didik tidak mengalami kegagalan dan mampu memecahkan masalahnya, guru hanya sebagai fasilitator saja.

3. Free Inquiry

Pada model free inquiry atau inkuiri bebas ini peserta didik harus mengidentifikasikan dan merumuskan macam permasalahan yang dipelajari dan dipecahkan. Jenis free inquiry atau inkuiri bebas ini lebih bebas daripada kedua jenis inkuiri sebelumnya. Pada model free inquiry (inkuiri bebas) ini guru memberikan masalah saja, sedangkan prosedur dan pemecahan masalah tergantung kepada peserta didik. Jadi, pembelajaran aktif akan terbentuk dalam model ini. Namun, model pembelajaran ini akan mengakibatkan peserta didik yang berada di bawah standar tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik.
 

4. Inquiry Role Approach

Pendekatan model pembelajaran inquiry role approach ini melibatkan peranan peserta didik dalam tim-tim yang masing-masing terdiri atas empat orang untuk memecahkan masalah yang diberikan. Masing-masing anggota memegang peranan yang berbeda, yaitu sebagai koordinator tim, penasihat teknis, pencatat data, dan evaluator proses.

5. Invitation Into Inquiry

Jenis model invitation into inquiry ini melibatkan peserta didik dalam proses pemecahan masalah dengan cara-cara lain yang ditempuh para ilmuwan. Suatu invitasi memberikan problem atau masalah kepada para peserta didik melalui pertanyaan yang telah direncanakan dengan hati-hati dan mendorong peserta didik untuk melakukan beberapa kegiatan:
  • merancang eksperimen;
  • merumuskan hipotesis;
  • menentukan sebab akibat;
  • menginterpretasikan data;
  • membuat grafik;
  • menentukan peranan dalam diskusi dan kesimpulan dalam merencanakan penelitian;
  • mengenal bagaimana kesalahan eksperimental mungkin dapat dikurangi atau diperkecil.
 

6. Pictorial Riddle

Model pembelajaran pictorial riddle ini merupakan model pembelajaran yang dapat mengembankan motivasi dan minat peserta didik dalam diskusi kelompok kecil atau besar yang dapat digunakan untuk meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif para peserta didik. Biasanya, suatu materi berupa gambar di papan tulis, poster, atau diproyeksikan dari suatu transparansi kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi itu.

7. Synectics Lesson

Pada model pembelajaran synectics lesson ini, guru hendaknya memusatkan keterlibatan peserta didik untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan supaya dapat membuka inteligensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena kiasan dapat membantu peserta didik dalam berpikir untuk memandang suatu problem sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif.
 

8. Value Clarification

Pada model pembelajaran value clarification ini peserta didik lebih difokuskan pada pemberian kejelasan tentang suatu tata aturan atau nilai-nilai pada suatu proses pembelajaran. Model pembelajaran yang satu ini merupakan bagian dari model pembelajaran inkuiri yang mengarah pada internalisasi nilai-nilai yang telah menjadi sebuah budaya. Praktiknya adalah peserta didik diajak untuk mengenal nilai-nilai yang ada di sekitarnya lalu diarahkan untuk mencari maksud dari nilai tersebut dan berusaha untuk diterapkan.
 

Prosedur Pelaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning Model)

Kegiatan pembelajaran selama menggunakan model inkuiri ditentukan oleh keseluruhan aspek pengajaran di kelas, proses keterbukaan, dan peran peserta aktif. Pada prinsipnya, keseluruhan proses pembelajaran membantu peserta didik menjadi mandiri, percaya diri, dan yakin pada kemampuan intelektualnya sendiri didik untuk terlibat secara aktif. Peran guru bukan hanya membagikan pengetahuan dan kebenaran, melainkan juga sebagai penuntun dan pemandu. 150 Peran guru adalah menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran, bukan hanya memberikan informasi atau ceramah kepada peserta didik. Guru juga harus memfokuskan pada tujuan pembelajaran, yaitu mengembangkan tingkat berpikir yang lebih tinggi dan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Setiap pertanyaan yang diajukan peserta didik sebaiknya tidak langsung dijawab oleh guru, tetapi peserta didik diarahkan untuk berpikir tentang jawaban dari pertanyaan tersebut. Menurut Syah, dalam mengaplikasikan model pembelajaran inkuiri di kelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut.

1. Stimulation (Stimulasi/ Pemberian Rangsangan) atau Orientasi

Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu, guru dapat memulai kegiatan belajar mengajar dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.

2. Problem Statement (Pernyataan/ Identifikasi Masalah)

Setelah dilakukan stimulation, langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun peserta didik agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.

3. Data Collection (Pengumpulan Data)

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian, anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Dengan kata lain, secara tidak disengaja peserta didik menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

4. Data Processing (Pengolahan Data)

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan, dan semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Data processing disebut juga dengan pengkodean koding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

5. Verification (Pembuktian)

Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif lalu dihubungkan dengan hasil data processing. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak dan apakah terbukti atau tidak.

6. Generalization (Menarik Kesimpulan/ Generalisasi)

Tahap generalisasi atau menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memerhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memerhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

 

Pentingnya Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning Model)

Alasan rasional pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri adalah bahwa peserta didik akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai mata pelajaran dan akan lebih tertarik terhadap mata pelajaran jika mereka dilibatkan secara aktif dalam melakukan penyelidikan. Investigasi yang dilakukan oleh peserta didik merupakan tulang punggung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri (inquiry learning). Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep matematika dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah peserta didik. Dengan demikian, diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah tersebut.
 
Pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri (inquiry learning) yang mensyaratkan keterlibatan aktif peserta didik diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap pelajaran, khususnya kemampuan pemahaman dan komunikasi peserta didik. Pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri peserta didik sehingga dalam proses pembelajaran ini peserta didik lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Peserta didik benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar, peranan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun, dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh peserta didik. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi peserta didik dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan peserta didik dalam pemecahan masalah harus dikurangi.
 
Dalam inkuiri (inquiry learning), sebagian mereka mengembangkan kemampuan-kemampuan dan pemahaman tentang aspek-aspek proses inkuiri tertentu. Sebagai misal, siswa dapat mendeskripsikan bagaimana mereka akan merancang suatu penyelidikan. mengembangkan penjelasan-penjelasan berdasarkan pada informasi ilmiah dan bukti yang diperoleh melalui suatu aktivitas kelas, atau mengenali dan menganalisis beberapa penjelasan alternatif untuk suatu gejala alam yang disajikan dalam suatu demonstrasi guru. Siswa di kelas-kelas sekolah lanjutan pertama mulai mengenali hubungan antara penjelasan dan bukti. Mereka dapat memahami bahwa yang pengetahuan yang melatarbelakangi dan teori-teori memandu dalam merancang penyelidikan-penyelidikan, jenis-jenis pengamatan yang dibuat, dan penafsiran data. Selanjutnya, eksperimen-eksperimen dan penyelidikan-penyelidikan dilakukan siswa menjadi pengalaman yang membentuk dan memodifikasi pengetahuan latar belakang mereka.
 

Penutup

Demikianlah bahasan mengenai model pembelajaran inkuiri atau inquiry learning model, ya Sahabat Gurnulis. Semoga bermanfaat. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning)"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel