Skor dan Bobot pada Soal Uraian

Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id
Memahami perbedaan antara skor dan bobot pada penyusunan soal ulangan uraian SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA serta SMK
Assalamualaikum, halo sahabat Gurnulis. Kita bersua lagi pada blog penginspirasi pembelajaran ini ya. Bagaimana pembelajarannya? Berlangsung lancar  bukan? Minggu yang lalu penulis telah mengulas tata cara penyusunan kisi-kisi soal, penyusunan butir soal, hingga penyusunan kartu soal ya. Nah, pada bahasan penyusunan soal, khususnya pada soal uraian, beberapa pendidik sempat mempertanyakan perbedaan skor dengan bobot kepada penulis. Mereka mempertanyakan melalui formulir kontak. Ulasan yang hanya sekilas pada artikel "Cara Menyusun Soal Uraian" dirasa masih belum jelas dan gamblang untuk dipahami. Pada artikel kali ini penulis hendak mengulasnya sempai ke akar-akarnya. Penulis mulai dari hakikat soal uraian ya.
 

Hakikat Soal Uraian

Soal uraian merupakan bagian dari tes tertulis yang digunakan untuk mengukur ketercapaian belajar peserta didik. Soal uraian adalah soal yang jawabannya menuntut peserta didik untuk mengingat  dan mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang telah dipelajari dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis.
 
Soal uraian terbagi menjadi dua jenis, yaitu soal uraian objektif dan soal uraian nonobjektif. Soal uraian objektif mengukur kemampuan peserta didik menguraikan konsep tertentu sesuai materi pelajaran sehingga penskoran dilakukan secara objektif. Soal bentuk uraian non-objektif mengukur kemampuan peserta didik menguraikan pendapat terhadap konsep tertentu sesuai materi pelajaran sehingga penskoran dilakukan secara subjektif. Bentuk soal uraian harus memiliki pedoman penskoran yang jelas dan rinci.
 

Ketidaktepatan Konsep Guru dalam Menilai

Beberapa pendidik dari jenjang Sekolah Dasar sempat bertukar pikiran dengan penulis pasal penilaian pada soal uraian. Mereka membawa soal uraian sebagai berikut.
Soal
  1. Perhatikan gambar berikut!
    Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id
    Tuliskan bagian-bagian telinga yang bertanda A, B, dan C pada gambar tersebut!
  2. Berasal dari apakah bunyi?
  3. Menunjukkan sifat bunyi yang bagaimanakah percobaan berikut?
    Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id

  4. Apa yang dimaksud dengan gema?
  5. Mengapa kita tidak dianjurkan mendengarkan musik yang terlalu keras menggunakan headset?
Kunci jawabannya adalah sebagai berikut.
  1. A adalah gendang telinga, B adalah tulang sanggurdi, dan C adalah koklea atau rumah siput.
  2. Bunyi berasal dari benda-benda yang bergetar.
  3. Bunyi dapat merambat melalui gas.
  4. Gema adalah bunyi pantul yang datang setelah bunyi asli terjadi.
  5. Karena suara yang terlalu keras dari headset dapat merusak gendang telinga, sehingga kita berpotensi menjadi tuli.
 
Proses penilaian hasil belajar peserta didik dari soal tersebut biasanya beragam. Para guru biasanya masih memiliki teknik yang berbeda-beda. Berikut penulis ilutrasikan perbedaan dan analisisnya.
 

Konsep Penilaian Menurut "Guru A"

Salah satu pendidik, kita sepakati saja namanya “Guru A”, membuat pedoman penilaian sebagai berikut.
Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id
Menurut Guru A, karena jumlah soalnya adalah 5 dan nilai maksimum adalah 100, maka nilai didapatkan dari  jumlah jawaban benar per jumlah soal dikalikan 100. Rumus yang digunakannya tertera pada gambar di atas, yaitu jumlah jawaban benar per 5 dikalikan 100.
 
Sebagai contohnya, ketika peserta didik salah menjawab pada beberapa soal, penilaian yang dilakukan oleh Guru A adalah sebagai berikut.
Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id

Peserta didik tersebut mendapatkan nilai 60. Pendapat Guru A adalah sebagai berikut.
  • Kalau jawaban peserta didik benar cukup diberikan tanda centang.
  • Kalau jawaban peserta didik tidak sepenuhnya benar diberikan skor 1/2 (setengah).
  • Kalau jawaban peserta didik salah diberikan tanda silang.
Pada soal nomor 1, dari tiga poin jawaban yang terkandung di dalamnya peserta didik hanya menjawab satu poin saja yang benar, jadi oleh Guru A diberikan skor 1/2. Pada soal nomor 3 jawabannya salah, jadi Guru A memberikan tanda silang. Sementara pada soal nomor 4, jawaban peserta didik tidak lengkap, jadi diberikan skor 1/2.
 
Jumlah benar didapatkan dari 1/2 + 1 + 0 + 1/2 + 1 = 3. Jumlah soalnya adalah 5. Nilai peserta didik oleh Guru A dihitung dari 3 per 5 dikalikan 100, hingga didapatkan 60.
 
Tepatkah cara menilai yang demikian? Oke, kita lanjut ke guru lain yang memiliki cara pandang berbeda. Kita sepakati saja guru ini bernama "Guru B".
 

Konsep Penilaian Menurut "Guru B"

Guru B memiliki cara menentukan nilai yang sedikit berbeda. Menurutnya menggunakan skor dirasa lebih efektif daripada menggunakan centang dan silang. Berikut pedoman penskoran dan penilaian yang dipakai oleh Guru B.
Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id

Guru B mengatakan agar lebih objektif semua soal yang terdapat dalam ulangan tersebut harus diberikan penskoran. Karena nilai maksimumnya adalah 100 dan jumlah soalnya adalah 5, maka skor setiap soal diputuskan oleh Guru B menjadi 100 dibagi 5, yaitu 20. 

Jika peserta didik salah menjawab pada beberapa soal, proses penilaian yang dilakukan oleh Guru B adalah sebagai berikut.
Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id
 
Peserta didik yang sama kini mendapat nilai 57 menurut Guru B. Guru B berpendapat sebagai berikut.
  • Kalau jawaban peserta didik sepenuhnya benar akan diberikan skor 20.
  • Kalau jawaban peserta didik tidak sepenuhnya benar akan dikonversi persentase ketidakbenarannya, kemudian dikalikan dengan skor maksimum yaitu 20. 
  • Kalau jawaban peserta didik salah akan diberikan skor 0 (nol).
Pada soal nomor 1 peserta didik mendapatkan poin 7 karena dari tiga poin jawaban yang terkandung di dalamnya, peserta didik hanya benar 1 poin saja. Guru B mengonversinya menjadi 1 per 3 dikalikan 20, sehingga didapatkan 6,67 dibulatkan menjadi 7. Pada soal nomor nomor 3, jawaban peserta didik salah, jadi Guru B memberikan skor 0 (nol). Sementara pada soal nomor 4, jawaban peserta didik tidak sempurna, jadi Guru B mengonversinya menjadi 1 per 2 (1/2 dianggap mewakili ketidaksempurnaan jawaban) dikalikan 20, sehingga didapatkan 10.

Dari hasil penilaiannya, didapatkan skor-skor 7, 20, 0, 10, 20. Jika dijumlahkan muncul nilai, yaitu 57.
 
Lagi-lagi penulis ingin bertanya, sudah tepatkah cara memberikan nilai hasil belajar yang demikian? Yuk, kita analisis bersama-sama.
 

Analisis Konsep Penilaian "Guru A" dan "Guru B"

Sebelum menyusun soal kita pasti menyusun kisi-kisi soal terlebih dahulu. Ketika menyusun kisi-kisi soal, kita pasti dihadapkan dengan penentuan level soal, mulai dari level 1 sampai dengan level 3. Tata caranya dapat sahabat pendidik baca pada artikel "Level Kognitif pada Penyusunan Soal Ulangan". Yuk, sekarang sama-sama kita cermati level dari masing-masing soal.
  • Soal nomor 1 adalah soal dengan tipe pengetahuan atau pemahaman. Soal ini mengukur tingkat pemahaman peserta didik terhadap bagian-bagian dari telinga.
  • Soal nomor 2 adalah soal dengan tipe pengetahuan atau pemahaman. Soal ini mengukur tingkat pemahaman peserta didik terhadap asal dari bunyi.
  • Soal nomor 3 adalah soal dengan tipe penalaran. Soal ini mengukur kemampuan peserta didik dalam menganalisis maksud dari percobaan tersebut.
  • Soal nomor 4 adalah soal dengan tipe pengetahuan atau pemahaman. Soal ini mengukur pengetahuan peserta didik mengenai pengertian gema.
  • Soal nomor 5 adalah soal dengan tipe penalaran. Soal ini mengukur kemampuan peserta didik untuk menganalisis alasan dari tidak dianjurkannya kita mendengar musik yang terlalu keras dengan headset.
 
Guru A menggunakan cara menilai yang cukup sederhana. Semua soal dipukul rata penilaiannya. Kalau peserta didik menjawab benar maka diberikan tanda centang, kalau mendekati benar diberikan nilai 1/2, dan kalau salah diberikan tanda silang. Penilaian tidak melibatkan skor. Sekarang pertanyaannya: kalau semua soal dipukul rata penilaiannya, bagaimana dengan level kognitifnya? Apakah level tersebut diperhitungkan? Tentu saja tidak.

Guru B menggunakan cara menilai yang berbeda. Ia menggunakan skor. Semua soal diberikan skor yang sama, yaitu 20. Lagi-lagi dengan pertanyaan yang sama: kalau semua soal diberikan skor dengan besaran yang sama, bagaimana dengan kehadiran level kogntifnya? Apakah level tersebut diperhatikan? Jawabannya pun sama: tidak.

Bagaimana solusi penilaian yang sesuai dengan kaidah pelevelan soal? Solusinya adalah dengan BOBOT dan SKOR.
 

Bobot dan Skor

Sebagian besar pendidik seringkali beranggapan bahwa skor dan bobot adalah sama. Guru B pada ilustrasi di atas bisa saja mengatakan kalau skor yang ia berikan per soalnya itu pulalah bobotnya. Padahal tidak demikian.

Bobot adalah bilangan yang dikenakan terhadap setiap butir soal yang besarnya ditentukan berdasarkan usaha peserta didik dalam menyelesaikan soal itu. Pemberian bobot dilakukan dengan mempertimbangkan:
  • kedalaman/keluasan materi antarsoal,
  • kerumitan/kompleksitas jawaban, dan 
  • level kognitif yang diukur. 

Bagaimana dengan skor? Skor adalah bilangan yang merupakan data mentah dari hasil penilaian, yang belum diolah lebih lanjut, bersifat kuantitatif, dan tidak dapat diinterpretasikan. Skor terkait dengan kriteria penilaian.

Untuk lebih memahami perbedaan bobot dan skor, sahabat pendidik dapat menyimaknya pada ulasan berikut.
 

Cara Menentukan Nilai Soal Uraian

Nilai merupakan hasil pengolahan skor (data mentah) yang diolah lebih lanjut dengan menggunakan aturan atau kriteria tertentu sehingga dapat diinterpretasikan. Berikut penulis berikan contoh pengolahan skor dan bobot hingga menjadi nilai.

Soal yang telah terpapar di atas ditentukan kunci jawaban dan kriteria penilaiannnya terlebih dahulu dalam bentuk pedoman penilaian. Pendidik wajib mencantumkan pedoman penilaian dari setiap soal yang dibuatnya. Tujuannya adalah untuk meminimalisir subjektivitas penilaian apabila soal tersebut digunakan oleh pendidik lain. Contoh pedoman penilaiannya adalah sebagai berikut.
Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id
 
Berdasarkan kedalaman/keluasan materi antarsoal, kerumitan/kompleksitas jawaban, dan level kognitif yang diukur, maka diputuskan:
  • soal nomor 1 diberi bobot 20;
  • soal nomor 2 diberi bobot 10;
  • soal nomor 3 diberi bobot 25;
  • soal nomor 4 diberi bobot 10;
  • soal nomor 5 diberi bobot 35.
Pembobotan di atas adalah contoh dari penulis. Sekarang perhatikan angka-angka pada kolom bobot dan pada kolom skor! Perhatikan perbedaan berikut.
  • Bobot digunakan untuk menghasilkan nilai. Jumlah bobot dari semua soal harus 100 atau nilai lain yang disepakati.
  • Skor digunakan untuk mempermudah pengoreksian jawaban peserta didik berdasarkan kriteria penialaian.
 
Jawaban peserta didik apabila dinilai menggunakan pedoman penilaian tersebut akan menghasilkan angka-angka sebagai berikut.
Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id
Keterangannya adalah sebagai berikut.
  • Pada soal nomor 1, dari 3 kriteria yang terdapat pada kunci jawaban, hanya satu jawaban yang memenuhi. Skornya adalah 1. Nilai perolehan untuk soal nomor 1 adalah 1/3 dikalikan 20, yaitu 7 (pembulatan dari 6,67).
  • Pada soal nomor 2, jawabannya benar. Skornya adalah 2. Nilai perolehan untuk soal nomor 2 adalah 2/2 dikalikan 10, yaitu 10.
  • Pada soal nomor 3, jawabannya salah. Skornya adalah 0. Nilai perolehan untuk soal nomor 3 adalah 0/2 dikalikan 0, yaitu nol.
  • Pada soal nomor 4, jawabannya hanya mendekati benar. Skornya adalah 1. Nilai perolehan untuk soal nomor 4 adalah 1/2 dikalikan 10, yaitu 5.
  • Pada soal nomor 5, jawabannya lengkap. Skornya adalah 2. Nilai perolehan untuk soal nomor 5 adalah 2/2 dikalikan 35, yaitu 35.
  • Nilai total dari jawaban peserta didik tersebut adalah 7 + 10 + 0 + 5 + 35 = 57.

Kesimpulan

Skor dan bobot adalah dua hal yang berbeda. Untuk membedakan keduanya sahabat pendidik dapat mencermati penggunaannya pada pedoman penilaian soal uraian. Dengan adanya pedoman penilaian yang jelas, subjektivitas para pendidik dalam memberikan nilai kepada peserta didik akan minim. Dapat dibayangkan bukan, apa jadinya jika setiap pendidik memiliki cara menilai sendiri-sendiri sebagaimana yang telah diilustrasikan Guru A dan Guru B di atas?

Penulis menuliskan artikel ini berdasarkan Panduan Penilaian Tes Tertulis yang diterbitkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai berikut.
Skor dan Bobot pada Soal Uraian - www.gurnulis.id

Semoga menginspirasi. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

3 Komentar untuk "Skor dan Bobot pada Soal Uraian"

  1. Banyak guru bertipe guru A dan sebagian bertipe guru B. Hal itu terjadi akibat kurangnya literasi atau tidak mau bertanya berdiskusi tentang hal itu. Semoga para guru yang sdh membaca artikel ini, syukur-syukur membuka rujukannya akan makin tercerahkan.

    BalasHapus
  2. Tulisan yang sangat mencerahkan. Terimakasih sudah berbagi

    BalasHapus
  3. Heeemmmm tulisannya sangat berbobot....
    Sangat bernilai.......
    Matur nuwun sanget pak lik....

    BalasHapus

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel