Teori Belajar Van Hiele dalam Matematika SD

Teori Belajar Van Hiele dalam Matematika SD - www.gurnulis.id
Bahasan mengenai teori belajar Van Hiele yang terdiri dari tahap pengenalan, analisis, pengurutan, deduksi, dan akurasi.
Halo sahabat pendidik, masih bersama blog Gurnulis, blog penginspirasi para pendidik di sini. Sebelumnya penulis telah berbagi tentang teori belajar Bruner dan teori belajar Dienes ya. Nah, kali ini penulis akan mengupas teori belajar salah satu ahli lagi, yaitu Van Hiele.

Sebelum masuk ke pokok bahasan, sebenarnya untuk apa sih kita mempelajari teori belajar yang telah dicetuskan oleh para ahli? Jawabannya adalah untuk memantapkan proses pembelajaran kita. Mesti kita ketahui, penyusunan kurikulum, terutama pada pembelajaran Matematika, sudah pasti beracuan pada teori-teori belajar para ahli. Ngomong-ngomong, siapa sih Van Hiele ini? Yuk, sama-sama kita simak.

Sosok Van Hiele

Van Hiele yang terkenal dengan teori belajarnya adalah seorang guru Matematika kebangsaan Belanda.
Teori Belajar Van Hiele dalam Matematika SD - www.gurnulis.id
 
Van Hiele bersama istrinya, Dina - Van Hiele - Geldof  meneliti berbagai pembelajaran geometri. Menurut teori belajar Van Hiele, ada tiga unsur utama dalam pembelajaran geometri, yaitu:
  • waktu;
  • materi pembelajaran;
  • metode pembelajaran yang diterapkan.
Kalau ketiga unsur utama tersebut dilalui secara terpadu, kemampuan berpikir peserta didik akan meningkat ke tahapan berpikir yang lebih tinggi.

Proses Belajar dalam Teori Van Hiele

Menurut teori belajar Van Hiele, ada lima tahapan peserta didik dalam belajar, yaitu tahap pengenalan, tahap analisis, tahap pengurutan, tahap deduksi, dan tahap akurasi. Berikut penjelasannya.

Tahap Pengenalan Menurut Teori Belajar Van Hiele

Menurut teori belajar Van Hiele, tahap pengenalan merupakan tahap di mana peserta didik mulai belajar mengenal suatu bangun geometri namun belum mampu mengetahui sifat-sifat yang melekat padanya. Misalnya, seorang anak bisa saja telah mengenal segitiga, bujursangkar, bola, kubus, dan sejenisnya, namun ia belum mengetahui bahwa sisi kubus itu berbentuk bujursangkar yang jumlahnya enam, rusuknya berjumlah dua belas, dan sebagainya. Ia juga belum mengetahui kalau bujursangkar itu keempat sisinya sama panjang dan keempat sudutnya siku-siku.

Tahap Analisis Menurut Teori Belajar Van Hiele

Menurut teori belajar Van Hiele, tahap analisis merupakan tahap di mana peserta didik mulai mengenal sifat-sifat bangun geometri yang diamatinya, namun mereka belum mengetahui hubungan antarkonsepnya. Misalnya peserta didik telah mengenal sifat-sifat persegi panjang (dua sisi yang berhadapan adalah sejajar dan sama panjang), namun ia belum bisa mendapatkan konsep-konsep:
  • apakah persegi panjang itu adalah jajargenjang;
  • apakah jajargenjang itu adalah bujursangkar;
  • apakah bujursangkar itu adalah persegi panjang.
 

Tahap Pengurutan Menurut Teori Belajar Van Hiele

Menurut teori belajar Van Hiele, tahap pengurutan merupakan tahap di mana peserta didik telah mengenal dan memahami sifat-sifat suatu bangun geometri serta sudah dapat mengurutkan keterhubungan bangun-bangun geometri yang satu dengan bangun-bangun geometri yang lain. Misalnya peserta didik telah mengenal bahwa bujursangkar itu adalah jajargenjang, jajargenjang adalah trapesium, maupun kubus adalah balok. Meskipun kemampuan berpikir secara deduktif peserta didik belum berkembang pada tahap pengurutan ini, kemampuan berpikir mereka baru saja dimulai. Pada tahap ini peserta didik sudah mulai mengenal bahwa kedua diagonal persegi panjang adalah sama panjangnya namun ia belum mampu menjelaskannya.
 

Tahap Deduksi Menurut Teori Belajar Van Hiele

Menurut teori belajar Van Hiele, tahap deduksi merupakan tahap di mana peserta didik telah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan dari yang bersifat umum menuju ke hal-hal yang bersifat khusus. Peserta didik sudah mulai memahami perlunya pengambilan kesimpulan secara deduktif. Pada tahap deduksi ini peserta didik telah memahami pentingnya unsur-unsur yang tidak didefinisikan, aksioma atau postulat, dan dalil atau teorema, namun ia belum bisa memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dijadikan teorema.
 

Tahap Akurasi Menurut Teori Belajar Van Hiele

Menurut teori belajar Van Hiele, tahap akurasi merupakan tahap di mana peserta didik sudah mulai menyadari pentingnya ketepatan prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Misalnya peserta didik telah menyadari pentingnya aksioma-aksioma atau postulat-postulat dari geometri Euclid. Tahap berpikir ini merupakan tahap berpikir yang paling tinggi, paling rumit, dan paling kompleks, karenanya tahap akurasi ini di luar jangkauan peserta didik usia SD maupun usia SMP.

Sahabat pendidik, ada beberapa hal yang dapat kita tarik manfaatnya dari teori belajar Van Hiele ini, khususnya pada pembelajaran geometri. Manfaat tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
  • Memunculkan kesadaran bagi para pendidik akan perlunya kombinasi yang baik antara waktu, materi, dan metode, yang digunakan pada tahap tertentu untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik ke tahap yang lebih tinggi.
  • Menyadarkan pendidik bahwa dua orang peserta didik yang tahap pemikirannya berbeda meski bertukar pikiran satu sama lain pun mereka tidak akan saling mengerti. Misalnya: (1) ada peserta didik yang tidak mengerti ketika gurunya mengatakan jajargenjang adalah trapesium; (2) ada peserta didik yang tidak mengerti mengapa gurunya harus menunjukkan kalau sudut alas segitiga sama kaki adalah sama besarnya. Pada kedua contoh tersebut, gurunya pun tidak mengerti mengapa kedua siswa tersebut tidak mengerti.
 
Demikianlah bahasan mengenai teori belajar Van Hiele dalam Matematika di Sekolah Dasar. Semoga semakin memantapkan proses pembelajaran kita.

Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Teori Belajar Van Hiele dalam Matematika SD"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel