Teori Belajar Humanisme di Sekolah Dasar

Teori Belajar Humanisme di Sekolah Dasar - www.gurnulis.id
Bahasan mengenai teori belajar humanisme yang berusaha untuk memanusiakan manusia yang dikemukakan oleh Arthur Combs,  Maslow, dan Carl Rogers.
Halo, apa kabar sahabat pendidik? Sudahkah membaca teori belajar konstruktivisme di Sekolah Dasar pada artikel sebelumnya? Kalau belum, sahabat boleh membacanya terlebih dahulu ya. Kali ini penulis hendak mengajak sahabat berpindah bahasan pada teori belajar humanisme. Teori ini merupakan aliran lain setelah teori belajar behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme. Yuk, sama-sama kita kupas.

Pengertian Belajar, Teori, dan Teori Belajar

Teori merupakan teori merupakan prinsip umum yang didukung oleh data yang dimaksudkan untuk menjelaskan sekumpulan fenomena. Belajar merupakan kegiatan yang menghasilkan terjadinya perubahan tingkah laku pada individu yang relatif lama dan sifatnya tetap. Berdasarkan pengertian dari keduanya, dapat disimpulkan bahwa teori belajar adalah hukum-hukum/prinsip-prinsip umum yang melukiskan kondisiterjadinya belajar. Teori belajar ini bisa berupa sumber hipotesis, kunci, ataupun konsep-konsep yang memungkinkan guru menjadi lebih efektif dalam melaksanakan pembelajaran.
 

Teori Belajar Humanisme

Teori belajar humanisme merupakan teori belajar yang memandang bahwa belajar adalah usaha untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil apabila individu pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar humanisme ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Aliran humanisme beranggapan bahwa tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta didiknya mengembangkan diri. Caranya misalnya dengan membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Pengikut paham humanisme menerapkan pendidikan dan pembelajaran berdasarkan pada kebutuhan dan minat peserta didik. Hal ini karena kebutuhan dan minat adalah faktor yang mendorong atau memotivasi individu. Dengan demikian, menurut teori belajar humanisme, pendidikan harus dibuat bersifat sangat personal. Dengan kata lain, paham humanisme mendesak agar dalam pembelajaran guru mesti memperhatikan minat dan kebutuhan anak. Lebih jauh lagi para guru dituntut untuk dapat menciptakan lingkungan kelas yang sehat secara sosial dan emosional yang ditandai dengan adanya penerimaan dan rasa saling menghargai.

Ahli pembelajaran yang mendukung teori belajar humanisme adalah Arthur Combs,  Maslow, dan Carl Rogers.

Teori Belajar Humanisme Arthur Combs

Arthur Combs melakukan penelitian mengenai pembelajaran bersama-sama dengan Donald Snygg. Mereka berkolaborasi untuk mencurahkan perhatian pada dunia pendidikan. Meaning atau makna atau arti adalah konsep dasar yang sering mereka gunakan. Menurut teori belajar Arthur Combs, belajar dapat terjadi apabila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak dapat memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan peserta didik. Peserta didik yang tidak kompeten pada mata pelajaran Matematika ataupun IPS itu terjadi bukan karena mereka bodoh, melainkan karena mereka enggan dan terpaksa serta merasa tidak memiliki kepentingan untuk mempelajarinya. Arthur Combs berpendapat bahwa perilaku buruk itu sebenarnya berasal dari ketidakmampuan seseorang dalam melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
 
Guru perlu memahami perilaku peserta didik dengan mencoba memahami dunia persepsi mereka. Apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan peserta didik yang telah ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain.
 
Combs menyatakan bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa peserta didik mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal makna tidaklah menyatu dengan materi pembelajaran. Sehingga menurut Combs, yang paling penting adalah bagaimana membawa pesereta didik untuk memperoleh arti atau makna bagi pribadinya dari materi pembelajaran yang ia pelajari dan kemudian menghubungkan dengan kehidupannya.
 
Combs memberikan gambaran persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran, lingkaran besar dan lingkaran kecil) yang bertitik pusat pada tempat yang sama. Lingkaran kecil adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkaran besar adalah persepsi dunia. Semakin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi dirinya, maka akan semakin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri akan mudah untuk terlupakan.
 

Teori Belajar Humanisme Maslow

Maslow dikenal dengan teori belajarnya yang menyatakan bahwa di dalam diri individu ada dua hal, yaitu suatu usaha yang positif untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Menurut teori belajar Maslow, individu berperilaku dalam upaya memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada tingkatan paling bawah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi.
 
Hirarki kebutuhan menurut teori belajar humanisme Maslow adalah sebagai berikut.
  1. Kebutuhan fisik misalnya oksigen untuk bernapas, air untuk diminum, makanan, papan, sandang, buang hajat kecil maupun besar, dan fasilitas-fasilitas yang dapat berguna untuk kelangsungan hidup individu.
  2. Kebutuhan akan rasa aman dan tenteram (safety needs) misalnya mengusahakan keterjaminan finansial melalui asuransi atau dana pensiun, dan sebagainya.
  3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi (belongingness needs), misalnya menjalin persahabatan.
  4. Kebutuhan harga diri secara penuh (esteem needs) meliputi kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, perhatian,reputasi, kebanggaan diri, dan kemashyuran. Tipe atas terdiri atas penghargaan oleh diri sendiri, kebebasan, kecakapan, keterampilan, dan kemampuan khusus atau spesialisasi.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs).

Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting dan harus diperhatikan oleh guru dalam penyelenggaraan pembelajaran. Menurut teori belajar Maslow, perhatian dan motivasi belajar ini mungkin kurang berkembang seandainya kebutuhan dasar peserta didik belum terpenuhi.

Teori Belajar Humanisme Carl Rogers

Carl Rogers dikenal dengan teori belajar humanismenya yang membagi belajar menjadi tipe, yaitu kognitif (kebermaknaan) dan experiential (pengalaman atau signifikansi). Guru menghubungan pengetahuan akademik ke  dalam pengetahuan terpakai seperti mempelajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan peserta didiki. Kualitas belajar experiential learning mencakup hal-hal:
  • keterlibatan peserta didik secara personal;
  • berinisiatif;
  • evaluasi oleh peserta didik sendiri;
  • adanya efek yang membekas pada peserta didik.

Menurut teori belajar Rogers, setiap individu mempunyai keinginan untuk mengaktualisasi diri dan memiliki dorongan untuk menjadi dirinya sendiri karena setiap individu  memiliki kemampuan untuk mengerti dirinya sendiri, menentukan hidupnya sendiri, dan menangani masalah yang dihadapinya sendiri. Itulah sebabnya dalam proses pembelajaran hendaknya diciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik aktif mengaktualisasi dirinya.
 
Guru mesti memperhatikan prinsip pendidikan yang dikemukakan oleh teori belajar Rogers sebagai berikut.
  • Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Peserta didik tidak harus mempelajari hal-hal yang tidak ada artinya.
  • Peserta didik akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pembelajaran memiliki arti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi peserta didik.
  • Pengorganisasian bahan pembelajaranb erarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi peserta didik.
  • Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Salah satu model pendidikan terbuka mencakup konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers. telah diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975. Konsep mengajar ini membahas kemampuan para guru untuk menciptakan kondisi yang mendukung yaitu empati, penghargaan, dan umpan balik positif.  Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah:
  • merespon perasaan peserta didik;
  • menggunakan ide-ide peserta didik untuk melaksanakan interaksi yang telah dirancang;
  • berdialog dan berdiskusi dengan peserta didik;
  • menghargai peserta didik;
  • kesesuaian antara perilaku dan perbuatan;
  • menyesuaikan isi kerangka berpikir peserta didik (penjelasan untukmementapkan kebutuhan segera dari peserta didik);
  • tersenyum pada peserta didik.

Penelitian Aspy dan Roebuck menghasilkan pernyataan bahwa guru yang fasilitatif dapat mengurangi angka pebolosan peserta didik, meningkatkan nilai konsep diri peserta didik, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran Bahasa dan Matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problema yang terkait dengan disiplin, mengurangi tindakan perusakan terhadap peralatan sekolah, dan peserta didik menjadi lebih spontan serta menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.

Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanisme

Prinsip-prinsip teori belajar humanisme adalah sebagai berikut.
  • Pembelajaran hendaknya berfokus pada upaya untuk memahami cara manusia menciptakan perasaan, sikap dan nilai-nilai.
  • Pembelajaran hendaknya bertemakan upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama aspek afektif seperti emosi, perasaan, sikap, nilai dan moral.
  • Pembelajaran hendaknya menumbuhkan harga diri dan keyakinan.
  • Pembelajaran hendaknya berfokus pada kebutuhan dan minat siswa.
  • Sekolah hendaknya menyesuaikan diri menurut kebutuhan anak, bukan anak yang menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

Teori humanisme dalam pembelajaran memberi perhatian pada guru sebagai fasilitator. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait guru sebagai fasilitator, yaitu sebagai berikut.
  • Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas.
  • Guru sebagai fasilitator hendaknya membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
  • Guru harus mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
  • Guru mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
  • Guru menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
  • Dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelas, guru mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok.
  • Guru harus mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
  • Dalam perannya sebagai seorang fasilitator, guru harus mencoba untuk mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

Demikianlah bahasan mengenai teori belajar humanisme, ya sahabat pendidik. Semoga semakin memantapkan pembelajaran kita untuk memanusiakan manusia. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Teori Belajar Humanisme di Sekolah Dasar"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel