Iklan Header

Teori Belajar Konstruktivisme di Sekolah Dasar

Teori Belajar Konstruktivisme di Sekolah Dasar - www.gurnulis.id
Teori belajar konstruktivisme memandang pengetahuan individu didapatkan dari lingkungan, tokoh yang mendukungnya adalah Piaget dan Vygotsky
Assalamualaikum, halo sahabat Gurnulis. Salam literasi! Sebelumnya penulis telah berbagi artikel mengenai teori belajar kognitivisme ya. Nah, pada artikel ini penulis masih konsisten membahas teori belajar juga. Kali ini sahabat akan penulis ajak untuk beralih mendalami bahasan teori belajar konstruktivisme, terutama untuk peserta didik di Sekolah Dasar. Sebagaimana yang telah kita ketahui, pemahaman mengenai teori belajar berguna untuk memantapkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah.

Pengertian Belajar, Teori, dan Teori Belajar

Teori belajar terdiri dari kata teori dan belajar. Belajar didefinisikan sebagai kegiatan seseorang dalam mengubah tingkah laku yang relatif lama yang bersifat tetap. Bagaimana dengan teori? Teori sendiri didefinisikan sebagai prinsip umum yang didukung oleh data yang ditujukan untuk menjelaskan sekumpulan fenomena. Berdasarkan kedua definisi tersebut, dapat disimpulan bahwa teori belajar adalah hukum-hukum atau prinsip-prinsip umum yang menggambarkan kondisi terjadinya proses belajar.
 

Teori Belajar Konstruktivisme

Teori belajar konstruktivisme merupakan teori belajar yang didasarkan pada pernyataan bahwa individu membangun pengetahuan mereka sendiri dari lingkungan untuk memperoleh pengalaman dan skema. Teori belajar konstruktivisme berfokus pada penyiapan peserta didik dalam hal penyelesaian masalah.
 
Menurut teori konstruktivisme ini, dalam proses pembelajaran yang berlangsung, peserta didiklah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif  mengembangkan pengetahuan mereka sendiri, bukan guru ataupun orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya.
 
Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Proses belajar peserta didik lebih diarahkan kepada experimental learningExperimental learning merupakan adaptasi belajar berdasarkan pengalaman konkret di laboratorium, diskusi dengan teman satu kelas, yang kemudian direnungkan untuk dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya, penekanan dari proses "mendidik" dan "mengajar" tidak terfokus ke pada guru, melainkan kepada peserta didik.

Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivisme adalah sebagai berikut. 
  • Mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan.
  • Mengutamakan proses.
  • Menanamkanpem belajaran dalam konteks pengalaman sosial.
  • Pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.

Tokoh pembelajaran yang menganut teori belajar konstruktivisme adalah Piaget dan Vygotsky.
 

Teori Belajar Konstruktivisme oleh Piaget

Piaget memiliki nama lengkap Jean Piaget. Sebelumnya penulis telah membahasnya dalam artikel teori belajar Piaget. Piaget adalah tokoh yang tidak sependapat dengan pernyataan belajar sebagai sesuatu yang terbatas, yang lebih dipacu ke arah spontanitas terbatas untuk masalah tunggal, yang dicetuskan oleh teori stimulus respon.
 
Menurut teori belajar konstruktivisme Piaget, struktur kognitif yang dimiliki oleh individu terjadi karena proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses untuk mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang telah ada dalam diri individu. Akomodasi merupakan proses penstrukturan kembali struktur mental akibat dari adanya informasi dan pengalaman baru.

Piaget mendefinisikan belajar sebagai kegiatan yang tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja, melainkan juga proses penstrukturan kembali informasi dan pengalaman yang baru. Contonya begini, seandainya di dalam struktur mental peserta didik telah ada pengorganisasian dan pengelompokan bentuk-bentuk persegi, persegi panjang, jajargenjang, peserta didik tersebut diberikan bangun trapesium sehingga mereka memahami bahwa trapesium merupakan segiempat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan struktur kognitif yang telah dimiliki mereka. Proses peserta didik menyatukan objek ke dalam struktur kognitif yangs telah dimilikinya akan menjadi asimilasi. Setelah asimilasi terjadi, terjadilah penstrukturan kembali konsep yang telah dimiliki oleh peserta didik karena adanya informasi baru tentang trapesium tadi. Ini artiya telah terjadi akomodasi.

Penerapan teori belajar konstruktivisme Piaget adalah sebagai berikut.
  • Guru hendaknya memulai pembelajaran dari sesuatu yang dianggap biasa oleh peserta didik, dari hal yang telah diketahui mereka.
  • Guru mengupayakan terjadinya situasi konflik pada struktur kognitif peserta didik. Contohnya pada pembelajaran klasifikasi hewan (dalam materi pembelajaran IPA) tentang ular dan belut, peserta didik menduga kalau ular dengan belut berada dalam satu jenis karena bentuknya yang hampir sama, padahal keduanya jelas-jelas berbeda tidak hanya pada tingkat spesies, bahkan sampai pada tingkat genusnya. Guru memberi pembandigan antara konsep yang telah ada dalam diri peserta didik dengan konsep yang sebenarnya. Dengan demikian, di dalam struktur kognitif siswa akan terjadi situasi konflik.

Teori Belajar Konstruktivisme oleh Vygotsky

Vygotsky memiliki pendapat yang berbeda dengan Piaget. Ia tidak menganggap belajar sebagai tahapan yang berurutan diskrit. Vygotsky lebih menekankan belajar sebagai bentuk interaksi antara individu dengan individu lain.  Menurut teori belajar Vygotsky, perkembangan kognitif terbatas dalam rentang kecil pada setiap usia dan interaksi sosial dengan orang-orang yang lebih berpengalaman diperlukan untuk menemukan “zona perkembangan terdekat” atau Zone of Proximal Development atau ZPD.

Teori belajar konstruktivisme Vygotsky didasarkan pada dua gagasan utama yaitu sebagai berikut. 
  1. Perkembangan intelektual dapat dipahami hanya dari sudut konteks historis dan budaya yang dialami oleh individu.
  2. Perkembangan bergantung pada sistem tanda yang ada bersama masing-masing individu ketika mereka tumbuh.
Teori Vygotsky ini kemudian dikenal sebagai teori perkembangan sosiokultural.
 
Vygotsky mengemukakan bahwa perkembangan belajar seorang individu ditentukan oleh apa yang dapat dilakukan oleh individu secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan oleh individu tersebut ketika dibantu oleh orang dewasa atau teman sejawat yang kompeten. Ia berpendapat bahwa dalam pembelajaran, guru harus merencanakan kegiatan yang sanggup dilakukan oleh anak-anak sendiri dan kegiatan yang dapat dipelajari dengan bantuan orang lain yang lebih berkompeten.

Pembelajarandengan yang melibatkan orang yang lebih dewasa harus disusun jenjang tingkat pengetahuannya, sehingga peserta didik dapat meraih kemampuan potensialnya. Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotsky disebut sebagai scaffolding. Scaffolding memiliki arti pemberian sejumlah besar bantuan secara bertahap kepada seorang individu pada permulaan pembelajaran yang kemudian dikurangi secara pelan-pelan untuk memberikan kesempatan kepada mereka agar mampu mengerjakannya sendiri. Bantuan yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, penguraian masalah dalam bentuk lain yang memungkinkan peserta didik menjadi mandiri.

Inti dari teori belajar konstruktivisme Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan aspek eksternal dari pembelajaran. Penekanannya terletak pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori belajar Vygotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi ketika peserta didik bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya (berada dalam Zone of Proximal Development mereka). Zone  of Proximal Development adalah daerah antartingkat perkembangan sesungguhnya.

Teori belajar konstruktivisme Vygotsky sangat mendukung pengembangan materi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaan dalam hal pengembangan kehidupan yang demokratis bagi peserta didik di Sekolah Dasar. Dalam Pendidikan Kewarganegaraan, warga negara yang demokratis tidak dilahirkan, melainkan diciptakan dalam proses sosialisasi. Dengan demikian demokrasi mesti dipelajari dan dipelihara, sehingga memerlukan proses pendidikan yang dapat menghasilkan manusia yang demokratis.

Prinsip-prinsip Teori Belajar Konstruktivisme

Dengan beracuan kepada pendapat Piaget dan Vygotsky dapat ditarik prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivisme sebagai berikut.

Prinsip-prinsip teori belajar konstruktivisme berdasarkan teori Piaget adalah sebagai berikut.
  • Dalam proses pembentukan pengetahuan, kebermaknaan merupakan interpretasi individual peserta didik terhadap pengalaman yang dialaminya (meaning as internally constructed).
  • Pembentukan makna merupakan proses negosiasi antara individual peserta didik dengan pengalamannya melalui interaksi dalam proses belajar sehingga peserta didik menjadi tahu (learning and teaching as negotiated construction of meaning).
  • Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pengajar kepada pembelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pembelajar membangun sendiri pengetahuannya.
  • Mengajar berarti berpartisipasi dengan pembelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan mengadakan justifikasi.
  • Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsep masing-masing individual peserta didik.
  • Struktur konsep dapat membentuk pengetahuan, bila konsep baru yang diterima dapat dikaitkan ataupun dihubungkan dengan pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik.

Prinsip-prinsip teori belajar konstruktivisme berdasarkan teori Vygotsky adalah sebagai berikut.
  • Interaksi sosial itu penting, pengetahuan dibangun dengan melibatkan oranglain akan menjadi lebih baik.
  • Perkembangan manusia terjadi melalui alat-alat kultural yang berupa bahasa dan simbol yang diteruskan dari orang ke orang.
  • Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development) adalah perbedaan antara apa yang dapat dilakukan sendiri (kemampuan aktual) dan apa yang dapat dilakukan dengan bantuan orang yang lebih dewasa (kemampuan potensial).

Demikianlah bahasan mengenai teori belajar konstruktivisme di Sekolah Dasar. Bagaimana sahabat Gurnulis, apakah cukup informatif? Semoga semakin memantapkan proses pembelajaran kita. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Teori Belajar Konstruktivisme di Sekolah Dasar"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel