Teori Belajar Kognitivisme di Sekolah Dasar

Teori Belajar Kognitivisme di Sekolah Dasar - www.gurnulis.id
Bahasan mengenai teori belajar kognitivisme yang menekankan proses berpikir di balik tingkah laku peserta didik yang digunakan oleh Piaget, Gagne, Bruner, Ausubel, Dienes, Van Hiele, Brownell, dan Van Engen
Halo sahabat Gurnulis, salam pembelajaran! Sudahkah sahabat membaca artikel tentang teori belajar belajar behaviorisme? Kalau belum sahabat boleh membacanya terlebih dahulu ya. Artikel kali ini masih berhubungungan dengan teori belajar. Penulis hendak mengupas teori belajar kognitivisme. Bahasan mengenai teori belajar memang tidak ada habisnya dan tiada bosannya untuk disimak. Yuk, kita mulai dari hakikat teori dan belajar.
 

Pengertian Belajar, Teori, dan Teori Belajar

Apa itu belajar? Belajar adalah usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendapatkan perubahan tingkah laku yang relatif lama  yang sifatnya tetap. Usaha yang dilakukannya ini dapat diamati dari interaksinya dengan lingkungan tempat ia tinggal. Bagaimana dengan aktivitas belajar yang ada di sekolah? Di sekolah, aktivitas belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku peserta didik dalam menunjukkan pengetahuan dan keterampilan mereka miliki.

Apa itu teori? Teori didefinisikan sebagai prinsip umum yang didukung oleh data yang ditujukan untuk menjelaskan himpunan fenomena.
 
Dari kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa teori belajar merupakan hukum-hukum atau prinsip-prinsip umum yang menggambarkan kondisi terjadinya proses belajar.  Teori belajar dapat berupa sumber hipotesis, kunci dan konsep-konsep sehingga pengajar dapat lebih efektif dalam melaksanakan pembelajaran.
 

Teori Belajar Kognitivisme

Teori belajar kognitivisme merupakan teori belajar yang didasarkan pada proses berpikir di balik tingkah laku yang terjadi. Perubahan tingkah laku diobservasi dan digunakan sebagai indikator untuk mengetahui apa yang terjadi di balik cara berpikir peserta didik. Dalam teori belajar kognitivisme, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Teori belajar kognitivisme ini berasumsi bahwa setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya, di mana pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Pakar pembelajaran yang menganut aliran kognitivisme ini adalah Piaget, Gagne, Bruner, Ausubel, Dienes, Van Hiele, Brownell, dan Van Engen. Berikut pembahasannya.
 

Teori Belajar Perkembangan Kognitif oleh Piaget

Sebelumnya penulis telah membahas secara lengkap teori belajar Piaget ini dalam artikel teori belajar Piaget. Piaget yang memiliki nama lengkap Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir individu berkembang secara bertahap dari berpikir intelektual konkret ke intelektual abstrak. Keberurutan ini melalui empat periode. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. Namun meski demikian, usia kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. Paiget mengemukakan empat periode sebagai berkut.
  1. Periode sensori motor (0 sampai dengan 2 tahun).
  2. Periode praoperasional (2 sampai dengan 7 tahun).
  3. Periode operasional konkret (7 sampai dengan 11 atau 12 tahun).
  4. Periode operasi formal (11 atau 12 tahun ke atas).
 
Peserta didik pada usia SD berada pada periode operasional konkret (7 sampai dengan 11 atau 12 tahun). Dalam periode ini, cara berpikir anak sudah operasional. Periode ini disebut dengan operasional konkret sebab berpikir logisnya masih didasarkan pada manipulasi fisik dari objek-objek yang nyata. Operasi konkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik - konkret yang lampau dan mendapat kesulitan dala mmengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman-pengalaman yang khusus.

Aplikai teori pembelajaran perkembangan intelektual Piaget dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. Guru harus menyesuaikan proses pembelajaran dengan tahap perkembangan anak. Pembelajaran materi ajar harus dengan manipulasi benda-benda konkret. Contohnya membelajarkan bilangan di kelas satu Sekolah Dasar harus dimulai dengan peragaan benda-benda konkret terlebih dahulu, seperti kelereng, lidi, ataupun benda konkret lainnya, hingga terbentuk konsep bilangan. Begitu juga dalam membelajarkan bangun-bangun geometri, guru harus mengawalinya dengan menggunankan model bangun-bangun geometri terlebih dahulu.
 

Teori Belajar Pemrosesan Informasi oleh Gagne

Gagne mengemukakan teori belajar yang dikenal dengan teori pemrosesan informasi. Teori ini pada dasarnya untuk menjelaskan fenomena belajar. Proses  yang terjadi seperti cara kerja komputer, yang diawali dari masukan (input) kemudian proses (procces) dan keluaran (output). Sebelumnya teori belajar Gagne ini telah penulis bahas dalam artikel teori belajar Gagne.
Teori Belajar Kognitivisme di Sekolah Dasar - www.gurnulis.id
Berdasarkan teori belajar ini, stimulus tidak dapat disimpan dalam ingatan jangka pendek karena stimulus tersebut tidak menjadi perhatian. Mengingat kembali atau memanggil kembali informasi dalam ingatan jangka panjang akan meningkat jika kita menghubungkan informasi kepada hal-hal yang sudah kita ketahui pada saat kita menerima informasi baru.

Aplikasi teori belajar pemrosesan informasi oleh Gagne ini adalah sebagai berikut.
  • Guru hendaknya berusaha agar materi pembelajaran dapat dimengerti secara maksimal oleh peserta didik, caranya adalah dengan menjelaskan manfaatnya serta menyajikannya dengan cara yang menarik.
  • Selanjutnya, materi pembelajaran yang telah menjadi perhatian peserta didik tersebut harus diupayakan dagar dapat diingat peserta didik dengan mudah dan disimpan dalam ingatan mereka.
  • Guru hendaknya menyusun bahan pembelajaran hingga mudah diingat, caranya adalah dengan menyusun berdasarkan kompleksitasnya atau dengan jembatan keledai.
  • Guru hendaknya melakukan pengulangan-pengulangan agar materi pembelajara dapat diingat dengan kuat oleh peserta didik.

Teori Belajar Bruner

Bruner memiliki nama lengkap Jerome Bruner. Pada artikel sebelemnya tentang teori belajar Bruner, penulis telah mengupas tuntas teori belajar beliau. Menurut Bruner, belajar merupakan kegiatan memahami konsep-konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut. Sebagaimana Piaget, Bruner mengungkapkan bahwa anak-anak berkembang dalam tiga tahapan perkembangan mental, yaitu sebagai berikut.
  • Enactive, yang merupakan tahap di mana anak-anak cara belajarnya menggunakan ataupun memanipulasi objek-obek secara langsung.
  • Iconic, yang merupakan tahap di mana anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek. Dalam tahap ini, anak tidak lagi memanipulasi secara langsung objek-objek seperti dalam enactive, melainkan telah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari objek.
  • Symbolic. yang merupakan tahap di mana anak-anak telah dapat memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak lagi ada kaitannya dengan objek-objek.
 
Aplikasi teori belajar Bruner ini adalah sebagai berikut.
  • Enactive: siswa memanipulasi obyek secara langsung. Guru membawa benda konkret berupa 3 buah jeruk kemudian guru menunjukkan lagi 2 buah jeruk. Peserta didik dan guru bersama-sama  menghitung  buah jeruk, sehingga ada 5 buah jeruk.
  • Iconic: guru menyajikan gambar jeruk di papan tulis, agar peserta didik memiliki gambaran dari  objek.
  • Symbolic: guru menuliskan dalam simbol bilangan di papan tulis yaitu 3 + 2 = 5. 

Buner juga mengungkapkan teorema kontras dan variasi. Misalkan untuk menjelaskan konsep dari bangun datar yang berupa jajargenjang, guru dapat meggunakan contoh dan bukan contoh, yaitu diberikan gambar yang berupa jajargenjang dan gambar yang bukan merupakan jajargenjang. Selain itu juga diberikan variasi dari bentuk-bentuk jajargenjang tersebut.
 

Teori Belajar Bermakna oleh Ausubel

Teori belajar Ausubel ini telah penulis bahas pada artikel teori belajar Ausubel. Ausubel terkenal dengan teori belajarnya yang menyatakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) apabila informasi yang akan dipelajari oleh peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki oleh mereka sehingga mereka dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang telah ada dalam dirinya.

Ausubel menyarankan para guru untuk menyusun bahan pembelajaran secara final. Peserta didik belajar dari bahan pembelajaran yang telah disusun secara final dan guru menyampaiknnya dengan metode ceramah. Bahan pembelajaran yang telah disusun secara final ini mudah diserap oleh peserta didik. Informasi yang disampaikan dengan cara ceramah, asalkan bahan yang disampaikan tersebut disusun secara bermakna, akan menghasilkan belajar bermakna.

Ausubel menolak pendapat mengenai pembelajaran penemuan. Ia  menolak pendapat kegiatan belajar dengan menemukan adalah bermakna dan kegiatan belajar dengan ceramah adalah kurang bermakna. Ausubel berpendapat bahwa kedua kegiatan belajar itu saling tidak bergantungan satu sama lain. Ausubel mengungkapkan empat jenis belajar peserta didik yaitu sebagai berikut.
  • Belajar dengan penemuan yang bermakna, misalnya siswa diminta menemukan sifat-sifat suatu persegi. Dengan mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki, seperti sifat-sifatpersegipanjang, siswa dapat menemukan sendiri sifat-sifat persegi tersebut.
  • Belajar dengan ceramah yang bermakna.
  • Belajar penemuan yang tidak bermakna. Informasi yang dipelajari ditentukan secara bebas oleh peserta didik, kemudian mereka menghafalnya. Misalnya, peserta didik menemukan sifat-sifat persegi tanpa bekal pengetahuan sifat-sifat geometri yang berkaitan dengan segiempat dengan sifat-sifatnya, yaitu dengan penggaris dan jangka. Dengan alat-alat ini diketemukan sifat-sifat persegi dan kemudian dihafalkan.
  • Belajar dengan ceramah yang tidak bermakna. Informasi dari setiap tipe bahan disajikan kepada peserta didik dalam bentuk final dan mereka kemudian menghafalkannya. Bahan yang disajikan tadi tanpa memperhatikan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik.
 

Teori Belajar Dienes

Bahasan mengenai teori belajar Dienes sebelumnya telah penulis muat dalam artikel teori belajar Dienes. Dienes adalah matematikawan yang tertarik dengan pembelajaran matematika pada anak-anak. Sebagaimana Bruner, Dienes berpendapat bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara sempurna apabila disajikan kepada peserta didik dalam bentuk yang konkret. Konsep-konsep matematika dipelajari berdasarkan tahap-tahap yang bertingkat sebagaimana halnya dengan tahap periode perkembangan intelektual milik Piaget.
 
Menurut teori belajar Dienes, terdapat enam tahap yang beruntun dalam belajar matematika yaitu:
  1. permainan bebas (free play);
  2. permainan yang menggunakan aturan (games);
  3. permainan mencari kesamaan sifat (searching for comunalities);
  4. permainan dengan representasi (representation);
  5. permainan dengan simbulisasi (simbolization);
  6. formalisasi (formalization).
 
Aplikasi teori belajar Dienes adalah sebagai berikut. Peserta didik dihadapkan dengan materi penjumlahan bilangan. Apabila dua bilangan ganjil dijumlahkan, maka hasilnya adalah bilangan genap. Langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut.
  • Pembelajaran dimulai dari permainan bebas, yaitu peserta didik diminta mengelompokkan kelereng sesuai dengan keinginannya.
  • Peserta didik diminta untuk menghitung kelompok-kelompok kelereng tersebut.
  • Pengelompokan diarahkan dengan membuat dua kelompok yang berjumlah ganjil kemudian menjumlahkannya.
  • Peserta didik melakukan hal yang sama sampai diperoleh kesamaan sifat yaitu hasil penjumlahan dua buah bilangan ganjil adalah bilangna genap.
 
Pembelajaran untuk peserta didik Sekolah Dasar tentunya cukup sampai di sini. Tahap simbolisasi dan tahap formalisasi selanjutnya dilakukan kalau peserta didik telah menempuh pembelajaran di SMP.
 

Teori Belajar Van Hiele

Van Hiele, sebagaimana yang telah penulis kupas teori pembelajarannya pada artikel teori belajar Van Hiele, merupakan matematikawan yang tertarik pada pembelajaran geometri. Menurut Van Hiele ada tiga unsur utama dalam pembelajaran geometri, yaitu waktu, materi pembelajaran, dan metode pembelajaran yang diterapkan. Apabila ketiganya dilalui secara terpadu, maka kemampuan berpikir peserta didik akan dapat meningkat hingga pada tahapan berpikir yang lebih tinggi.
 
Menurut teori belajar Van Hiele, tahapan-tahapan belajar geometri ada lima, yaitu:
  • tahap pengenalan bentuk suatu bangun geometri;
  • analisis sifat-sifat dari bangun geometri;
  • pengurutan bangun-bangun geometri yang satu dengan lainnya saling berhubungan;
  • deduksi;
  • akurasi atau rigor.
 
Aplikasi teori belajar Van Hiele adalah sebagai berikut. Misalnya ketika hendak membelajarkan konsep bangun datar, pembelajaran dilakukan dengan tahapan-tahapan berikut.
  • Pembelajarannya dimulai dengan mengenalkan berbagai bangun datar, dapat berupa segitiga, persegi, persegipanjang, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang, trapesium, lingkaran dan sebagainya.
  • Setelah peserta didik mengenal bangun-bangun datar tersebut berdasarkan bentuknya, pembelajaran dilanjutkan dengan pengenalan sifat-sifat bangun, misalnya persegi mempunyai empat sisiyang sama panjang dan sebagainya.
  • Peserta didik dibelajarkan hubungan antara bangun datar yang satu dengan bangun datar yang lain, misalnya persegi adalah persegi panjang, tetapi persegi panjang belum tentu persegi dan sebagainya..
 
Pembelajaran untuk siswa Sekolah Dasar cukup sebatas sampai tahap urutan. Tahap deduksi dan tahap akurasi atau rigor dilakukan pada peserta didik tingkat SMP dan SMA
 

Teori Belajar Brownell dan Van Engen

Brownell terkenal dengan teori belajarnya yang menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar itu  merupakansuatu proses yang bermakna. Brownell menekankan bahwa belajar matematika harus ditempuh dalam pebelajaran bermakna dan pengertian. Menurut teori belajar makna, peserta didik harus melihat makna dari apa yang dipelajarinya. Teori belajar makna menekankan perlunya drill dalam pembelajaran matematika. Bahasan lebih lanjut mengenai hal ini dapat dibaca pada artikel teori belajar Brownell dan teori belajar Van Engen yang telah penulis tulis.

Teori makna memandang matematika sebagai suatu sistem dan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan proses-proses yang dapat dimengerti oleh peserta didik. Peserta didik harus mampu melihat makna dari apa yang dipelajarinya. Peserta didik harus tahu makna dari simbol yang ditulis dan juga ungkapan yang diucapkannya.
 
Aplikasi pembelajaran dengan menggunakan teori belajar Brownell dan Van Engen adalah sebagai berikut. Misalnya ketika guru hendak membelajarkan penjumlahan dua buah bilangan yang terdiri dari dua angka dengan satu kali teknik menyimpan pada peserta didik kelas dua Sekolah Dasar dapat ditempuh langkah sebagai berikut.
Teori Belajar Kognitivisme di Sekolah Dasar - www.gurnulis.id

Penjumlahan 45 + 28 ditempuh dengan penjabaran 45 = 40 + 5 dan 28 = 20 + 8. Selanjutnya, 40 dijumlahkan dengan 20 dan 5 dijumlahkan dengan 8. Hasilnya menjadi 60  + 13  =  60 + (10 + 3) = (60 + 10) + 3 = 70 + 3 = 73.

Dengan cara ini dapat dijelaskan alasan dari penekanan penggunaan teknik menyimpan. Jadi, peserta didik dapat menemukan makna dari istilah “teknik menyimpan”, sehingga mereka mengetahui makna dari apa yang sedang dipelajarinya. Setelah peserta didik telah memahami makna dari apa yang dipelajarinya, dapat dilakukan drill untuk menguatkan pemahaman.

Prinsip-prinsip Teori Belajar Kognitivisme

Prinsip-prinsip teori belajar kognitivisme adalah sebagai berikut.
  • Peserta didik harus membuat hubungan antara informasi baru dengan informasi yang sudah dimilki.
  • Informasi baru harus disajikan secara logis untuk disampaikan kepada peserta didik.
  • Peserta didik harus berlatih atau berpikir mengenai informasi yang dipelajarinya agar mereka tidak melupakannya.
  • Peserta didik harus berinteraksi dengan guru dan didorong untuk bertanya.
  • Ketika peserta didik dapat menemukan sesuatu atas usaha mereka sendiri, mereka akan belajar dengan lebih baik.
  • Peserta didik perlu belajar mengenai cara belajar.
  • Tujuan terpenting dalam pembelajaran adalah membantu peserta didik menjadi pemecah masalah yang lebih baik. 

Prinsip-prinsip tersebut merupakan hasil rangkuman dari Cruickshank, Jenkins, dan Metcalf.
 
Demikianlah bahasan mengenai teori belajar kognitivisme. Semoga semakin memantapkan pembelajaran di kelas. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Teori Belajar Kognitivisme di Sekolah Dasar"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel