Teori Belajar Matematika SD

Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Bahasan mengenai teori belajar Matematika di Sekolah Dasar yang terdiri dari teori belajar Bruner, Dienes, Van Hiele, Brownell, Van Engen, dan Gagne
Assalamualaikum, halo sahabat pendidik masih bersama blog Gurnulis di sini. Beberapa waktu lalu penulis telah mengupas berbagai teori belajar. Nah, pada tulisan kali ini, penulis masih hendak berbagi tentang teori belajar ya. Penulis hendak merangkumkan teori-teori belajar yang dapat digunakan pada pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Berikut penjelasannya.

Pengertian Teori Belajar 

Belajar merupakan sebuah proses perubahan perilaku pembelajar yang mencakup aspek kognitif atau pengetahuan, afektif atau sikap, dan psikomotorik atau keterampilan melalui pengalaman belajar. Teori merupakan sekumpulan prinsip yang berfungsi menjelaskan dan menyimpulkan gejala atau fakta.  Secara formal, teori dikembangkan dari bukti-bukti empiris dalam praktik. Teori yang baik harus memenuhi kriteria-kriteria:
  • secara tepat dan cermat merefleksikan suatu fenomena dan jelas;
  • mampu mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi dapat digeneralisasikan sehingga dapat diterapkan dalam berbagai situasi;
  • konsisten, mempunyai asumsi yang jelas, dan terbatas.

Suatu teori tidak bersifat kekal setelah lama diterima dan digunakan secara luas, dapat dimodifikasi, atau bahkan berkemungkinan untuk tidak lagi digunakan apabila bukti-buktinya tidak lagi mendukung.
 
Teori belajar merupakan kumpulan dari prinsip-prinsip yang berusaha menjelaskan proses perubahan perilaku pembelajar yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Teori belajar disusun dengan tujuan untuk memandu pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik berdasarkan karakteristiknya. Karakteristik peserta didik dalam belajar Matematika dijelaskan dalam hakikat peserta didik sebagai berikut.
 

Hakikat Peserta Didik Sekolah Dasar

Hakikat peserta didik di Sekolah Dasar diuraikan berdasarkan posisinya pada pembelajaran Matematika, sebagai individu yang berkembang, dan kesiapan intelektualnya.
 

Posisi Peserta Didik pada Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Pada pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar ditemui dua karakteristik yang sama sekali berbeda, yaitu hakikat anak dan hakikat Matematika. Anak pada usia SD sedang mengalami perkembangan pada kemampuan berpikirnya, tahapan berpikir mereka masih belum formal, dan bahkan ada yang masih berada pada tahapan pra-konkret. Di sisi lain, Matematika adalah ilmu  deduktif aksiomatik, formal, hierarkis, abstrak, bahasa simbol yang padat anti, dan sebagainya yang dapat dikembangkan menjadi suatu sistem Matematika. Perbedaan karakteristik ini membutuhkan kemampuan khusus seorang guru untuk menjembatani keduanya.
 
Matematika bagi anak pada usia Sekolah Dasar bermanfaat bagi kepentingan hidup pada lingkungannya, bagi pengembangan pola pikirnya, dan bagi pembelajaran ilmu-ilmu di masa kemudian. Kebermanfaatan Matematika bagi anak usia SD sudah jelas dan tidak perlu dipersoalkan, terlebih lagi pada era pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini.
 

Posisi Peserta Didik sebagai Individu yang Berkembang

Anak usia Sekolah Dasar bukanlah miniatur orang dewasa. Kemampuan berpikirnya tidak sama dengan kemampuan berpikir orang dewasa. Terdapat tahapan-tahapan perkembangan yang harus dilalui oleh anak hingga mereka memiliki kemampuan berpikir sebagaimana orang dewasa. Selain itu, para guru pun harus menyadari bahwa setiap anak merupakan individu yang relatif berbeda dalam hal minat, bakat, kemampuan, kepribadian, dan pengalaman lingkungannya.

Kesiapan Intelaktual Peserta Didik di Sekolah Dasar

Para pencetus teori belajar Matematika seperti Peaget, Bruner, Brownell, maupun Dienes bependapat bahwa untuk dapat memberikan pelajaran tentang sesuatu kepada anak, guru harus memperhatikan tingkat perkembangan berpikir anak tersebut. Pada dasarnya, agar pelajaran Matematika dapat dipahami oleh peserta didik Sekolah Dasar dengan baik, maka pembelajaran harus diberikan kepada peserta didik yang memang sudah siap untuk memahaminya. Kesiapan intelektual peserta didik untuk menerima pembelajaran diindikasikan dari hal-hal berikut.

1. Kekekalan Bilangan
Anak dikatakan telah mengerti konsep kekekalan bilangan apabila ia telah menyadari bahwa banyaknya benda-benda itu akan tetap walaupun letaknya berbeda-beda. Perhatikan ilustrasi berikut.
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Anak dikatakan telah memahami konsep kekekalan bilangan jika ia berpendapat bahwa banyaknya pensil yang disimpan secara berdekatan baik itu yang lebih renggang ataupun yang dijajarkan adalah sama, dan ia dikatakan belum memahami konsep ini apabila ia berpendapat bahwa banyaknya adalah berbeda.

Kalau anak belum menguasai konsep kekekalan bilangan ini artinya anak belum waktunya untuk mendapatkan pembelajaran tentang konsep penjumlahan ataupun operasi-operasi hitung lainnya. Konsep kekekalan bilangan umumnya dapat dicapai oleh peserta didik pada usia sekitar 6 - 7 tahun.

2. Kekekalan Materi (Zat)
Perhatikan ilustrasi berikut!
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Apabila anak berpendapat bahwa air pada kedua gelas di sebelah kanan adalah berbeda banyaknya  meskipun berasal dari dari dua gelas yang volumenya sama, maka ia dikatakan belum memahami hukum kekekalan materi atau hukum kekekalan zat. Jika anak berpendapat demikian artinya anak baru memahami konsep kesamaan dan perbedaan berdasarkan satu sudut pandangan yang tampak olehnya. Umumnya konsep kekekalan materi ini baru dapat dicapai pada anak dengan usia sekitar 7 - 8 tahun.
 
3. Kekekalan Panjang
Perhatikan ilustrasi berikut!
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Apabila belum menguasai konsep kekekalan panjang, anak akan berpendapat bahwa dua utas tali yang sama panjang akan berubah menjadi tidak  sama panjang jika salah satu tali dikerutkan dan yang lainnya tidak. Ia cenderung berpendapat bahwa tali yang tidak dikerutkan akan lebih panjang daripada tali yang dikerutkan.

Kalau anak belum menguasai konsep kekekalan panjang ini, ia akan kesulitan dalam mempelajari konsep pengukuran, terutama pengukuran panjang benda-benda yang tidak lurus. Konsep kekekalan panjang ini umumnya dapat dicapai oleh anak pada usia sekitar 8 - 9 tahun.

4. Kekekalan Luas
Perhatikan ilustrasi berikut!
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Anak yang belum menguasai konsep kekekalan luas cenderung berpendapat bahwa luas daerah yang ditutupi oleh benda-benda di sebelah kanan adalah lebih besar meskipun sebenarnya keduanya adalah sama luasnya. Lebih lanjut, jika memang demikian artinya anak belum memahami bahwa luas daerah persegipanjang PQRS adalah sama dengan  luas daerah persegipanjang ABCD dan luas daerah segitiga ABD adalah setengah luas daerah jajarangenjang ABCD pada ilustrasi berikut. 
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
 Anak mencapai konsep kekekalan luas pada usianya di sekitar 8 - 9 tahun.
 
5. Kekekalan Berat
Perhatikan ilustrasi berikut!
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Anak dikatakan belum menguasai konsep kekekalan berat apabila ia belum mengerti bahwa berat benda itu adalah tetap walaupun bentuk, tempat, maupun alat penimbangannya berbeda-beda. Pada umumnya, anak akan memahami konsep kekekalan berat ini pada usia 9 - 10 tahun.

6. Kekekalan Isi
Pemahaman mengenai kekekalan isi dapat diraih oleh anak pada usianya sekitaran 14 - 15 tahun. Bentuk dari pemahaman ini misalnya anak sudah memahami bahwa air yang ditumpahkan dari sebuah bak atau gelas yang penuh adalah sama dengan isi sebuah benda yang ditenggelamkannya. Perhatikan ilustrasi berikut!
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id

7. Tingkat Pemahaman
Anak pada usia Sekolah Dasar memiliki tingkat pemahaman yang terbatas. Mereka masih mengalami kesulitan dalam merumuskan definisi dari sesuatu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Mereka masih kesulitan berpikir secara induktif apalagi secara deduktif dan umumnya mereka berpikir secara transitif (dari khusus ke khusus serta belum mampu membuat kesimpulan). Mereka baru bisa menyatakan bahwa
  • 2 + 0 = 2,
  • 4 + 2 = 6,
  • 6 + 4 = 10,
  • 8 + 4 = 12,
namun mereka belum mampu menyimpulkan secara induktif bahwa penjumlahan dari dua bilangan genap menghasilkan bilangan genap, apalagi secara deduktif membuktikan bahwa jumlah dua bilangan genap adalah genap.
 

Teori Belajar Matematika Menurut Para Ahli

Perlunya jembatan penghubung antara hakikat peserta didik pada usia Sekolah Dasar dengan hakikat Matematika mendorong para ahli untuk mencetuskan teori belajar berdasarkan hasil penelitian mereka. Teori belajar Matematika yang terkenal adalah teori belajar Bruner, teori belajar Dienes, teori belajar Van Hiele, teori belajar Brownell, teori belajar Van Engen, dan teori belajar Gagne.

Teori Belajar Bruner

Untuk mendapatkan ulasan yang lebih lengkap mengenai teori belajar Bruner, sahabat pendidik dapat mengaksesnya pada tulisan "Teori Belajar Bruner dalam Matematika SD".
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Bruner merupakan ahli pembelajaran dari Universitas Harvard. Menurut teori belajar Bruner, proses belajar peserta didik terbagi dalam tiga tahapan sebagai berikut.
  1. Tahap enaktif atau tahap kegiatan.
  2. Tahap ikonik atau tahap gambar bayangan.
  3. Tahap simbolik.
Selama studinya mengenai perkembangan belajar, Bruner merumuskan 4 teorema pada pembelajaran matematika sebagai berikut.
  1. Teorema penyusunan (teorema konstruksi).
  2. Teorema notasi.
  3. Teorema pengontrasan dan keanekaragaman (teorema kontras dan variasi).
  4. Teorema pengaitan (teorema konektivitas).
 

Teori Belajar Dienes

Sebelumnya penulis telah mengulas teori belajar Dienes pada artikel "Teori Belajar Dienes dalam Matematika SD". Sahabat pendidik dapat mengaksesnya pada tautan tersebut.
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Dienes yang memiliki nam lengkap Zoltan P. Dienes adalah seorang guru matematika di Hongaria, Inggris, dan Perancis. Menurut teori belajar Dienes, Matematika dipandang sebagai pelajaran struktur, klasifikasi struktur, relasi-relasi dalam struktur, dan mengklasifikasikan relasi-relasi antara struktur. Ada enam tahapan belajar peserta didik menurut teori belajar Dienes yaitu sebagai berikut.
  1. Tahap bermain bebas (free play).
  2. Tahap permainan (games).
  3. Tahap penelaahan kesamaan sifat (searching for communities).
  4. Tahap representasi (representation).
  5. Tahap simbolisasi (symbolization).
  6. Tahap formalisasi (formalitation)
 

Teori Belajar Van Hiele

Untuk mendapatkan ulasan yang lebih lengkap mengenai teori belajar Van Hiele, sahabat pendidik dapat mengaksesnya pada tulisan "Teori Belajar Van Hiele dalam Matematika SD".
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Van Hiele adalah guru Matematika berkebangsaan Belanda. Ia memfokuskan penelitiannya pada pembelajaran geometri. Menurutnya ada tiga unsur utama dalam pembelajaran geometri ini, yaitu waktu, materi pembelajaran, dan metode pembelajaran. Tahapan peserta didik dalam mempelajari geometri menurut teori belajar Van Hiele adalah sebagai berikut.
  1. Tahap pengenalan.
  2. Tahap analisis.
  3. Tahap pengurutan.
  4. Tahap deduksi.
  5. Tahap akurasi.
 

Teori Belajar Brownell

Bahasan yang lebih lengkap mengenai teori belajar Brownell telah penulis tuangkan dalam artikel "Teori Belajar Brownell dalam Matematika SD". Sahabat pendidik boleh membukanya pada tautan tersebut.
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Brownell yang memiliki nama lengkap William Brownell mengungkapkan bahwa belajar Matematika itu harus berbentuk belajar bermakna. Teori belajar ini merupakan teori alternatif dari teori Drill atau Drill Theory (teori latihan hafal/ulangan). Menurut teori belajar Brownell, kemampuan mendemonstrasikan operasi-operasi hitung secara mekanis dan otomatis sebagaimana yang ditawarkan dalam teori Drill tidaklah cukup. Tujuan utama dari pembelajaran aritmetika pada peserta didik adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir dalam situasi kuantitatif
 

Teori Belajar Van Engen

Teori belajar Van Engen telah dibahas secara lengkap dalam artikel "Teori Belajar Van Engen dalam Matematika SD". Untuk membacanya, sahabat pendidik dapat mengeklik tautan tersebut.

Van Engen mengungkapkan teori belajarnya tentang belajar bermakna sebagaimana Brownell. Menurut teori belajar ini, belajar bermakna memiliki tiga unsur, yaitu:
  1. ada suatu kejadian (event), benda (object), ataupun tindakan (action);
  2. adanya simbol (lambang/notasi/gambar) yang digunakan sebagai pernyataan yang mewakili unsur pertama di atas;
  3. adanya individu yang menafsirkan simbol-simbol dan mengacu kepada unsur pertama di atas.
 
Tujuan pembelajaran aritmatika menurut Van Engen adalah untuk membantu anak memahami suatu sistem simbol yang mewakili himpunan kejadian. Rangkaian kegiatan yang diberi simbol tersebut harus dialami langsung oleh anak. Teori belajar Van Engen berupaya membedakan makna (meaning) dan mengerti (understanding).

Teori Belajar Gagne

Gagne yang memiliki nama lengkap Robert M. Gagne membahas mengenai objek dan tipe belajar Matematika. Ulasan lengkapnya dapat dibaca pada artikel "Teori Belajar Gagne dalam Matematika SD".
Teori Belajar Matematika SD - www.gurnulis.id
Menurut teori belajar Gagne, objek Matematika ada dua yaitu objek langsung dan objek tidak langsung dan tipe belajar anak ada delapan yaitu:
  1. belajar isyarat;
  2. belajar stimulus respons;
  3. rangkaian gerak;
  4. rangkaian verbal;
  5. belajar membedakan;
  6. belajar konsep;
  7. belajar aturan;
  8. pemecahan masalah.

Demikianlah bahasan mengenai teori belajar Matematika di Sekolah Dasar. Sebagaimana yang telah penulis sampaikan, bahasan yang lebih lengkap dapat sahabat pendidik baca pada tautan-tautan yang tersaji. Tujuan dari dipahaminya teori belajar ini adalah untuk memantapkan pembelajaran yang berlangsung di kelas. Semoga bermanfaat, salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Teori Belajar Matematika SD"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel