Teori Belajar Behaviorisme di Sekolah Dasar

Teori Belajar Behaviorisme di Sekolah Dasar - www.gurnulis.id
Pembahasan mengenai teori belajar behaviorisme yang diungkapkan oleh Pavlov, Thorndike, Skinner, Gutrie, dan Bandura
Assalamualaikum para sahabat Gurnulis. Kita bertemu kembali ya. Masih ingatkah sahabat dengan tulisan mengenai teori belajar pada pembelajaran Matematika dan teori belajar pada pembelajaran IPA di Sekolah Dasar yang telah penulis terbitkan beberapa waktu yang lalu? Sahabat pendidik boleh membukanya untuk mengingat-ingat kembali. Pada postingan kali ini penulis pun masih antusias untuk mengupas seputar teori belajar, terutama di yang dapat digunakan di Sekolah Dasar. Yuk, kita mulai.

Pengertian Belajar, Teori, dan Teori Belajar

Belajar merupakan usaha yang ditempuh oleh individu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku yang relatif lama  dan bersifat tetap. Usaha yang dimaksudkan di sini dapat diamati dengan adanya interaksi antara  individu dengan lingkungannya. Di sekolah sendiri, perubahan tingkah laku peserta didik ditandai dengan kemampuan peserta didik untuk mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya.

Bagaimana dengan pengertian teori? Teori adalah prinsip umum yang didukung oleh data yang ditujukan untuk menjelaskan sekumpulan fenomena. Berdasarkan definisi dari belajar dan definsi dari teori tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori belajar merupakan hukum-hukum atau prinsip-prinsip umum yang menggambarkan kondisi terjadinya proses belajar.  Teori belajar dapat berupa sumber hipotesis, kunci dan konsep-konsep sehingga pengajar dapat lebih efektif dalam melaksanakan pembelajaran.
 
Teori belajar memiliki manfaat untuk membantu pendidik memahami proses terjadinya aktivitas belajar pada manusia. Dengan dimengertinya teori belajar, pendidik akan mengetahui apa yang harus ia lakukan agar peserta didik dapat belajar secara optimal.
 
Sampai saat ini, tidak ada satu teori pun yang dapat menjelaskan keseluruhan perihal proses belajar pada manusia secara tuntas. Karenanya, pendidik harus memahami berbagai teori belajar untuk selanjutnya dapat ia gunakan dalam pembelajaran. Salah satu teori belajar yang penting adalah teori belajar behaviorisme ini.

Teori Belajar Behaviorisme

Teori belajar behaviorisme merupakan teori belajar yang berkonsentrasi pada studi tingkah laku individu yang dapat diamati dan diukur. Menurut teori belajar behaviorisme ini, pikiran manusia adalah kotak hitam yang tidak dapat diamatki, akibatnya teori ini mengabaikan pengkajian proses berpikir. Ahli yang mendukung teori belajar behaviorisme ini adalah Pavlov, Thorndike, Skinner,  Gutrie, dan Bandura.

Teori Belajar Pengkondisian Klasik oleh Pavlov

Pavlov yang memiliki nama lengkap Ivan Pavlov merupakan penganut teori belajar behaviorisme. Ia merupakan okoh yang terkenal dengan teori Classical Conditioning-nya. Teori ini dalam bahasa Indonesia disebut sebagai teori pengkondisian klasik. Pavlov beranggapan bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Ada empat proses belajar dalam teori belajar Pavlov ini, yaitu:
  1. fase akuisisi,
  2. fase eliminasi,
  3. fase generalisasi, dan
  4. fasede skriminasi.
Aplikasi teori belajar behaviorisme oleh Pavlov ini misalnya pemberian stimulus tertentu (yang telah dikondisikan) pada diri peserta didik agar mereka lekas menguasai materi tertentu. Pada materi tentang pengidentifikasian ciri-ciri dankebutuhan makhluk hidup pada mata pelajaran IPA misalnya, guru dapat memberikan soal kepada peserta didik dan jika mereka dapat menjawab dengan benar, mereka diberi hadiah berupa tambahan nilai. Dengan diberikannya tambahan nilai tersebut, semangat belajar peserta didik akan meningkat, sehingga belajar akan menjadi kebiasaan bagi mereka. Setelah menjadi kebiasaan, meski tanpa diberi hadiah lagi, peserta didik tetap bersemangat untuk belajar.
 

Teori Belajar Koneksionisme oleh Thorndike

Thorndike adalah salah satu penganut teori belajar behaviorisme. Menurut terori belajar koneksionisme yang dibawakan oleh Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus dengan respon.
 
Selama berlangsungnya pembelajaran terjadi asosisasi antara stimulus dan respon ini. Contohnya adalah sebagai berikut.
  • Pendidik mengajukan pertanyaan (ini disebut sebagai stimulus), siswa menjawab pertanyaan guru (ini disebut sebagai respon).
  • Pendidik memberikan Pekerjaan Rumah (ini disebut sebagai stimulus) dan siswa mengerjakannya (ini disebut sebagai respon).
Menurut Thorndike, belajar adalah upaya untuk memabangun koneksi antara stimulus dan respon sebanyak-banyaknya. Pendapat ini kemudian dikenal sebagai teori belajar koneksionisme.
 
Menurut teori belajar koneksionisme, hukum-hukum belajar terdiri dari:
  • hukum kesiapan(law of readiness),
  • hukum latihan (law of exercise), dan
  • hukum akibat (law ofeffect).
Aplikasi teori belajar koneksionisme milik Thorndike adalah sebagai berikut. 
  1. Pendidik memastikan kesiapan peserta didik di awal pembelajaran, baik secara fisik maupun mental. Penyiapan ini dapat berupa berdoa dan penyampaian manfaat dari materi yang hendak dipelajari.
  2. Pendidik memberikan latihan-latihan soal agar pemahaman peserta didik menjadi lebih baik. Contohnya, apabila pendidik mengajarkan cara menjumlahkan dua pecahan, ia harus memberikan latihan soal penjumlahan dua pecahan secara berulang-ulang.
  3. Pendidik memberikan reward (hadiah), baik berupa ungkapan verbal ataupun penguatan yang berbentuk simbol, misalnya dengan memberikan nilai agar siswa semangat untuk berlatih.
  4. Ketika membelajarkan  lingkungan alam dan buatan di sekitar, pendidik perlu menayangkan gambar ataupun video terlebih dahulu agar peserta didik tertarik dengan pembelajaran tersebut. Hal ini sesuai dengan hukum kesiapan, bahwa semakin peserta didik tertarik kepada materi pelajaran maka mereka akan semakin siap untuk mengikuti pembelajaran.

Teori Belajar Pengkondisian Operan oleh Skinner

Skinner memiliki nama lengkap Burrus Frederick Skinner. Ia adalah tokoh dari teori belajar behaviorisme yang berkebangsaan Amerika. Skinner terkenal dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning (pengkondisian operan). Skinner berpendapat bahwa manajemen kelas dapat dilakukan dengan memodifikasi perilaku, yang antara lain dilakukan dengan proses penguatan (pemberian penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat).

Menurut teori belajar pengkondisian operan ini, unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Pengetahuan yang terbentuk dalam diri peserta didik melalui ikatan stimulus dan respon akan semakin kuat bila diberikan penguatan. Skinner membagi penguatan menjadi dua, yaitu:
  • penguatan positif, yang berupa hadiah atau penghargaan;
  • penguatan negatif, yang berupa menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan ataumenunjukkan perilaku tidak senang.
Kegunaan dari penguatan adalah untuk mengendalikan perilaku. Penguatan positif akan menguatkan perilaku, sedangkan penguatan negatif akan melemahkan perilaku yang tidak dikehendaki. Penguatan positif disebut juga penguatan atau reinforcement. Penguatan negatif disebut juga hukuman atau punishment.

Aplikasi teori belajar pengkondisian operan oleh Skinner adalah sebagai berikut.
  • Agar peserta didik menguasai materi tertentu, pendidik dapat memberikan tugas kepada mereka, baik tugas yang dikerjakan di kelas maupun tugas yang dikerjakan dirumah.
  • Agar peserta didik mau dan bersemangat dalam mengerjakan tugas, pendidik harus memberikan penguatan dengan segera dari penyelesaian tugas-tugas tersebut.
 

Teori Belajar Pembiasaan Asosiasi Dekat oleh Gutrie 

Penganut teori belajar behaviorisme lainnya adalah Gutrie. Gutrie memiliki nama lengkap Edwin R Gutrie. Ia adalah penemu teori pembiasaan asosiasi dekat (contigousconditioning theory). Teori ini menyatakan bahwa belajar merupakan kedekatan-hubungan antara stimulus dan respon. Peningkatan hasil belajar dapat dicapai oleh peserta didik apabila terdapat kedekatan asosiasi antara stimulus dengan respon.

Dalam pembelajaran, sering kita jumpai peserta didik dengan gaya belajar contiguous conditioning, misalnya mengasosiasikan Ibu kota negara Republik Indonesia dengan Jakarta, 17 Agustus dengan hari ulang tahun negara Indonesia, 2 × 3 dengan bilangan 6, dan sebagainya. Untuk itu, agar tercapai kontiguitas, pembelajaran dapat dilakukan dengan pemberian pertanyaan, misalnya sebagai berikut.
  • Ibu kota negara RI adalah ....
  • Tanggal 17 Agustus adalah ....
  • Hasil dari 2×3 adalah .....
Diantara teori-teori belajar behaviorisme, teori kontigous dikenal sebagai teori yang sangat sederhana dan efisien, karena hanya berprinsip pada kedekatan asosiasi antara stimulus dan respon. Oleh karena itu teori ini tidak dapat diterima begitu saja karena sifatnya yang mekanistik dan cenderung otomatis. Padahal dalam proses belajar yang dialami oleh manusia, peran pemahaman, pengelolaan informasi, dan tahapan pengelolaan informasi juga menjadi bagian dari proses belajar tersebut. Karena hal inilah yang membuat teori ini kurang dapat berkembang, apalagi setelah berkembangnya psikologi kognitif.

Aplikasi teori belajar pembiasaan asosiasi dekat oleh Gutrie ini adalah sebagai berikut. 
  • Agar peserta didik menguasai materi tertentu, pendidik harus mencari kedekatan materi tersebut dengan sesuatu yang akan menjadi stimulus. Misalnya dalam membelajarkan pecahan harus mengkaitkan dengan penulisan dalam bentuk atau dalam bentuk pecahan desimal. Selanjutnya siswa dalam memahami konsep pecahan dibiasakan dengan simbol-simbol tersebut. Agar siswa mampu mengenali konsep pecahan dengan baik maka harus dilakukan pengulangan-pengulangan.
  • Agar peserta didik memahami ciri-ciri warga negara demokratis sebagai materi pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewerganegaraan, peserta didik hendaknya dibiasakan dengan sifat-sifat demokratis. Pembiasaan ini dapat dilakukan dengan kegiatan pembelajaran yang banyak menggunakan model belajar kelompok atau diskusi kelompok.

Teori Belajar Kognitif Sosial oleh Bandura

Tokoh yang tidak kalah pentingnya dalam teori belajar behaviorisme adalah Bandura. Bandura yang memiliki nama Albert Bandura terkenal dengan teori belajar kognitif sosial. Penemuannya yang paling penting adalah orang dapat mempelajari tindakan-tindakan baru hanya dengan mengamati bagaimana orang lain melakukannya.

Teori belajar kognitif sosial menonjolkan gagasan bahwa sebagian besar manusia, belajar dalam sebuahlingkungan sosial. Dengan mengamati orang lain, manusia akan memperoleh pengetahuan, aturan-aturan, keterampilan-keterampilan, strategi-strategi, keyakinan, dan sikap. Individu melihat model atau contoh untuk mempelajari perilaku-perilaku yang dimodelkan, kemudian ia bertindak dengan apa yang menjadi model dan contoh yang diamatinya.

Bandura mengemukakan bahwa belajar dengan mengamati, baik langsung maupun tidak langsung akan melalui empat fase, yaitu:
  • fase menaruh perhatian,
  • fase mengingat perilaku model,
  • fase memproduksi perilaku;
  • fase termotivasi untuk mengulangi perilaku tersebut.
Aplikasi teori belajar kognitif sosial yang dibawakan oleh Bandura adalah sebagai berikut. Agar peserta didik dapat menyelesaikan soal, pendidik harus memberikan contoh bagaimana cara menyelesaikan soal serupa. Pendidik tersebut harus memberikan contoh berkali-kali agar perhatian anak tumbuh pada cara yang dilakukan oleh pendidik tersebut. Setelah hal tersebut tercapai, peserta didik akan mengingat cara yang digunakan pendidik untuk menyelesaikan soal. Pada akhirnya, peserta didik meniru cara gurunya untuk menyelesaikan soal serupa.

Prinsip-prinsip Teori Belajar Beviorisme

Prinsip-prinsip teori belajar behavirosme sebagaimana yang diungkapkan oleh Cruickshank, Jenkins, dan Metcalf adalah sebagai berikut.
  1. Pendidik hendaknya membangun kelas yang dapat dinikmati secara intelektual, sosial, dan fisik, sehingga peserta didik merasa aman dan nyaman.
  2. Pendidik hendaknya terbuka dan spesifik mengenai materi yang perlu dipelajari. Mereka hendaknya meggunakan tujuan perilaku spesifik ketika menulis perencanaan pelajaran dan berbagi pendapat dengan tujuan tersebut kepada peserta didik.
  3. Pendidik hendaknya memastikan bahwa peserta memiliki pengetahuan dan keahlian dasar yang memampukan mereka untuk mempelajari materi baru.
  4. Pendidik hendaknya memperlihatkan koneksi antara materi baru dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya.
  5. Ketika berjumpa dengan materi baru yang sifatnya kompleks, pendidik hendaknya memperkenalkan secara perlahan serta mengatur materi baru ke dalam beberapa bagian yang berurutan, pendek, dan mudah dipelajari.
  6. Pendidik hendaknya mengasosiasikan materi yang akan dipelajari dengan hal-hal yang disukai oleh peserta didik. Sebaliknya, pendidik tidak boleh mengasosiasikan materi yang dipelajari dengan hal yang tidak disukai oleh peserta didik. Misalnya, tidak menggunakan tugas sekolah sebagai hukuman.
  7. Pendidik hendaknya mengatakan  kepada peserta didik hal-hal apa yang paling penting dan memberikan pertandanya kepada mereka.
  8. Pendidik hendaknya mengenali dan memuji kemajuan serta tidak mengharapkan peserta didik belajar dengan kecepatan dan jumlah yang sama.
  9. Pendidik hendaknya mencari tahu hal-hal yang  menimbulkan perasaan dihargai pada diri peserta didik dan menggunakan hal tersebut untuk menguatkan perilaku belajar mereka. Beberapa peserta didik bisa saja merasa dihargai dengan adanya pemberian pujian verbal secara publik dan beberapa peserta didik lainnya justru menganggap pujian semacam itu memalukan
  10. Untuk sebuah tugas baru atau yang sulit, pendidik perlu lebih sering melakukan penguatan. Bila peserta didik telah menguasai tugas baru, diberikan penguatan namun tidak perlu terlalu sering.
  11. Pendidik hendaknya menciptakan situasi yang memungkinkan  setiap siswa memiliki kesempatan untuk sukses.
  12. Pendidik hendaknya mencontohkan perilaku untuk ditiru para peserta didik. Contohnya menunjukan antusiasme dalam belajar.
  13. Bahan ajar yang akan dipelajari harus disajikan dalam bagian-perbagian dan dalam langkah-langkah yang berurutan.
 

Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Behaviorisme

Teori belajar behaviorisme memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan teori belajar ini adalah sangat cocok untuk menghasilkan kemampuan yang membutuhkan praktik dan pembiasaan dalam diri peserta didik yang mengandung unsur-unsur kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya. Contoh dari kegiatan ini adalah percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga, dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih peserta didik yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

Kekurangan dari teori belajar behaviorisme ini adalah pembelajaran masih berpusat pada guru, bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kesalahan dalam penerapan teori belajar behaviorisme mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang tidak menyenangkan peserta didik. Misalnya guru menjadi pusat pembelajaran, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari oleh mereka. Peserta didik dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Peserta didik hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.

Demikianlah bahasan mengenai teori belajar behaviorisme di Sekolah Dasar. Semoga informatif ya, sahabat pendidik. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Teori Belajar Behaviorisme di Sekolah Dasar"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel