Model Pembelajaran Artikulasi

Model Pembelajaran Artikulasi - www.gurnulis.id
Bahasan mengenai model pembelajaran artikulasi yang terdiri dari tahap penyampaian kompetensi dasar oleh guru, penyampaian materi oleh guru, pembentukan kelompok, peserta didik menyampaikan materi yang diterima dari guru, peserta didik menyampaikan wawancara kepada pasangannya, pengulangan materi oleh guru, dan penyimpulan hasil belajar oleh guru.
Halo sahabat Pendidik. Beberapa saat yang lalu kita telah membahas teori belajar kognitivisme, konstruktivisme, humanisme, maupun behaviorisme ya. Kini kita beralih ke bahasan model pembelajaran. Penulis hendak mengajak sahabat berliterasi tentang model pembelajaran artikulasi. Masih terasa asingkah telinga kita dengan model pembelajaran ini? Yuk, sama-sama kita pelajari.

Pengertian Model Pembelajaran Artikulasi

Artikulasi berkaitan dengan struktur-struktur dalam otak yang melibatkan kemampuan bicara (area kemampuan bicara), membaca, atau pemprosesan kata lainnya, dan area gerak tambahan (menulis, membuat sketsa, dan gerak-gerak ekspresif lainnya). Artikulasi merujuk pada apa-apa saja yang berkaitan dengan berbicara atau melakukan sesuatu akibat dari pemprosesan hasil kerja otak.
 
Model pembelajaran artikulasi mengeksplorasi kemampuan berbicara serta gerak ekspresi akibat kegiatan berpikir peserta didik. Model pembelajaran artikulasi berupaya membentuk kelompok berpasangan, di mana salah satu peserta didik menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. Setelah itu dilanjutka dengan presentasi di depan kelas perihal hasil diskusinya. Tugas guru di sini adalah membimbing siswa untuk memberikan kesimpulan.
 
Model pembelajaran artikulasi dilaksanakan sebagaimana pesan berantai. Peserta didik wajib meneruskan penjelasan yang diterimanya dari guru kepada peserta didik lain. Ini merupakan keunikan dari model pembelajaran ini. Peserta didik dituntut untuk mampu berperan  sebagai penerima sekaligus penyampai pesan.

Miftahul Huda dalam bukunya "Model-model Pengajaran dan Pembelajaran"  menerangkan bahwa pembelajaran artikulasi merupakan model pembelajaran yang menuntut peserta didik aktif.
Model Pembelajaran Artikulasi - www.gurnulis.id

Pada pembelajaran ini, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing anggotanya bertugas mewawancarai teman kelompoknya tentang materi yang sedang dibahas. Skill pemahaman sangat diperlukan dalam model pembelajaran ini.

Model pembelajaran artikulasi  menekankan pada konsep peserta didik aktif. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok kecil berpasangan: satu peserta didik bertugas mewawancarai peserta didik yang lain mengenai materi yang telah disampaikan oleh guru. Kegiatan ini dilakukan secara bergantian. Pada akhirnya, setiap kelompok diminta untuk menyampaikan hasil kerjanya kepada kelompok yang lain.

Pentingnya Model Pembelajaran Artikulasi

Miftahul Huda menerangkan bahwa perbedaan model pembelajaran artikulasi dari model pembelajaran yang lain terletak pada penekanannya terhadap komunikasi peserta didik kepada teman satu kelompoknya. Pada model pembelajaran artikulasi terdapat kegiatan wawancara atau penyimakan pada teman satu kelompoknya dan pada cara tiap siswa menyampaikan hasil diskusi di depan kelompok lain. Setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat kelompoknya. Kelompok ini biasanya terdiri dari dua orang.

Pada model ini terjadi proses interaksi antaranggota kelompok. Salah satu anggota menjadi narasumber sementara yang lain merekam informasi, dan selanjutnya bergantian. Hasil belajar tersebut didiskusikan dengan kelompok lain sehingga kelompok lain juga mendapat informasi serupa. Jadi, pada model ini terjadi pembelajaran dari dan untuk peserta didik.

Tujuan dari model pembelajaran artikulasi adalah untuk membantu peserta didik dalam mengeksplorasi cara mengungkapkan kata-kata dengan jelas dalam mengembangkan pengetahuan. Diharapkan peserta didik dapat membuat suatu keterhubungan antara materi dengan disiplin ilmu. Model pembelajaran artikulasi diterapkan untuk melatih peserta didik menyampaikan ide atau pengetahuannya serta menggali informasi berdasarkan kegiatan interaktif.

Manfaat dari diterapkannya model pembelajaran artikulasi adalah sebagai berikut.
  • Peserta didik menjadi lebih mandiri.
  • Peserta didik bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajar.
  • Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
  • Terjadi interaksi antarsiswa dalam kelompok kecil.
  • Terjadi interaksi antarkelompok kecil.
  • Masing-masing peserta didik memiliki kesempatan berbicara atau tampil di depan kelas untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok mereka.
Model pembelajaran artikulasi menekankan pada interaksi dan komunikasi peserta didik sebagai perekam informasi dari peserta didik lain sebagai anggota kelompok kecil untuk kemudian menjadi sumber pengetahuan dan kemudian disampaikan di depan kelas. Secara mandiri, peserta didik menggali informasi dari temannya, kemudian mencernanya. Informasi yang telah diperoleh tersebut dibagikan di depan kelas sebagai bentuk pelaporan sekaligus sumber informasi bagi siswa lainnya. Hal ini dapat melatih kemandirian, komunikasi, pemahaman, serta kepercayaan diri peserta didik dalam pembelajaran.

Langkah-langkah atau Sintaks Model Pembelajaran Artikulasi

Ada tujuh fase dari langkah-langkah atau sintaks model pembelajaran artikulasi ini. Fase-fase tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Fase 1 berupa menyampaikan kompetensi dan materi yang akan dibahas. Guru menyampaikan kompetensi dan materi yang akan dibahas kepada peserta didik.
  2. Fase 2 berupa menyampaikan materi. Guru menyampaikan materi kepada peserta didik.
  3. Fase 3 berupa membentuk kelompok. UGuru membentuk kelompok berpasangan 2 orang peserta didik untuk mengetahui daya serap mereka.
  4. Fase 4 berupa menyampaikan materi yang baru diterima dari guru. Guru meminta salah seorang dari pasangan untuk menceritakan materi yang baru saja diterimanya.
  5. Fase 5 berupa menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Guru meminta peserta didik secara bergiliran ataupun diacak untuk menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Ini terus dilakukan sampai sebagian peserta didik selesai menyampaikan hasil wawancaranya.
  6. Fase 6 berupa menjelaskan kembali materi sekiranya belum dipahami oleh peserta didik atau belum terkonfirmasi. Guru mengulangi atau menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dikuasai oleh peserta didik.
  7. Fase 7 berupa menyimpulkan. Guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan pembelajaran.
Lebih lanjut, berikut adalah langkah-langkah penerapan model pembelajaran artikulasi.
  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
  3. Untuk mengetahui daya serap peserta didik, dibentuk kelompok peserta didik berpasangan dua orang.
  4. Menugaskan salah satu peserta didik dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru. Pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
  5. Menugaskan peserta didik secara bergiliran ataupun diacak untuk menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya.
  6. Guru mengulangi atau menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dikuasai oleh peserta didik.
  7. Kesimpulan atau penutup.
 

Kelebihan Model Pembelajaran Artikulasi

Kelebihan model pembelajaran artikulasi adalah sebagai berikut.
  1. Semua peserta didik terlibat atau mendapat peran dalam pembelajaran.
  2. Melatih kesiapan peserta didik.
  3. Melatih daya serap pemahaman dari orang lain.
  4. Cocok untuk tugas sederhana.
  5. Interaksi lebih mudah.
  6. Lebih mudah dan cepat membentuknya.
  7. Meningkatkan partisipasi peserta didik.
 

Kelemahan Model Pembelajaran Artikulasi

Di samping memiliki kelebihan, model pembelajaran artikulasi ini memiliki kelemahan. Kelemahan model pembelajaran artikulasi adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mata pelajaran tertentu waktu yang dibutuhkan lebih banyak.
  2. Materi yang didapat sedikit.
  3. Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.
  4. Lebih sedikit ide yang muncul.

Model pembelajaran artikulasi melibatkan peran serta semua anggota kelompok sehingga setiap siswa secara aktif berpartisipasi mengembangakan pengetahuan individu. Interaksi antarindividu dapat melatih kepercayaan diri peserta didik sehingga mereka lebih siap secara mandiri dalam menyerap dan memahami materi yang disampaikan oleh rekan satu kelompoknya.

Demikianlah bahasan mengenai model pembelajaran artikulasi ya sahabat pendidik. Semoga menginspirasi. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Model Pembelajaran Artikulasi"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel