Iklan Header

Model Pembelajaran Experiental Learning

Model Pembelajaran Experiental Learning - www.gurnulis.id
Bahasan mengenai model pembelajaran experiental learning atau pembelajaran berbasis pengalaman, mulai dari pengertian, pengembangan, langkah-langlah atau sintaks, kelemahan, kelebihan, sampai dengan kesimpulan dari model pembelajaran experiental learning.
 
Halo Sahabat Gurnulis, penulis tetap setia membahas model pembelajaran ya. Penulis memiliki model pembelajaran berbasis pengalaman atau experiental learning untuk dibahas. Oh ya, sebelumnya penulis telah membahas model-model pembelajaran berikut.
Baiklah, langsung saja kita mulai ya.

Pengertian Model Pembelajaran Experiental Learning atau Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Pembelajaran dengan model experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) mulai diperkenalkan pada 1984 oleh David Kolb. David Kolb mendefinisikan belajar sebagai "proses bagaimana pengetahuan diciptakan melalui perubahan bentuk pengalaman".
 
Pengetahuan diakibatkan oleh kombinasi pemahaman dan mentransformasikan pengalaman. Gagasan tersebut akhirnya berdampak sangat luas pada perancangan dan pengembangan model pembelajaran seumur hidup. Model pembelajaran berbasis pengalaman mendefinisikan belajar sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Belajar dari pengalaman mencakup keterkaitan antara berbuat dan berpikir. Jika seseorang terlibat aktif dalam proses belajar maka orang itu akan belajar jauh lebih baik. Hal ini disebabkan dalam proses belajar tersebut pembelajar secara aktif berpikir tentang apa yang dipelajari dan kemudian bagaimana menerapkan apa yang telah dipelajari dalam situasi nyata. Atherton mengemukakan bahwa dalam konteks belajar pembelajaran berbasis pengalaman dapat dideskripsikan sebagai proses pembelajaran yang merefleksikan pengalaman secara mendalam dan dari sini muncul pemahaman baru atau proses belajar. Pembelajaran berbasis pengalaman memanfaatkan pengalaman baru dan reaksi pembelajar terhadap pengalamannya untuk membangun pemahaman dan transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Pembelajaran berbasis pengalaman adalah proses belajar secara induktif, berpusat pada pembelajar dan berorientasi pada aktivitas refleksi secara personal tentang suatu pengalaman dan memformulasikan rencana untuk menerapkan apa yang telah diperoleh dari pengalaman dalam konteks situasi matematika yang lain adalah faktor kritis dalam menjaga efektivitas pembelajaran berbasis pengalaman. 
 
Pembelajaran berbasis pengalaman terjadi ketika pembelajar:
  • berpartisipasi dalam suatu aktivitas;
  • menyelidiki secara kritis aktivitas pengalaman untuk diklarifikasi;
  • menarik pemahaman yang berguna dari analisis terhadap pengalaman yang diperoleh;
  • menggunakan pengalaman yang telah diperoleh untuk bekerja pada situasi yang baru.
Pada perkembangannya saat ini, menjamurlah lembaga-lembaga pelatihan dan pendidikan yang menggunakan experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) sebagai metode utama pembelajaran bahkan sampai pada kurikulum pokoknya. Kolb mengusulkan bahwa experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) mempunyai enam karakteristik utama sebagai berikut.
  1. Belajar terbaik dipahami sebagai suatu proses, tidak dalam kaitannya dengan hasil yang dicapai.
  2. Belajar adalah suatu proses kontinu yang didasarkan pada pengalaman. Belajar memerlukan resolusi konflik-konflik antara gaya-gaya yang berlawanan dengan cara dialektis. Belajar adalah suatu proses yang holistik.
  3. Belajar melibatkan hubungan antara seseorang dan lingkungan.
  4. Belajar adalah proses tentang menciptakan pengetahuan yang merupakan hasil dari hubungan antara pengetahuan sosial dan pengetahuan pribadi.
  5. Experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) adalah proses belajar, proses perubahan yang menggunakan pengalaman sebagai media belajar atau pembelajaran bukan hanya materi yang bersumber dari buku atau pendidik.
Experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) adalah pembelajaran yang dilakukan melalui refleksi dan juga melalui suatu proses pembuatan makna dari pengalaman langsung. Experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) berfokus pada proses pembelajaran untuk masing-masing individu. Experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) ini bertitik tumpu pada teori humanistik. Teori ini menjelaskan bahwa dalam belajar manusia mempunyai potensi-potensi dasar atau tertentu yang harus dikembangkan dan dibina supaya berkembang ke arah yang baik tanpa memberikan materi dengan gaya banking.

Experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) adalah suatu pendekatan yang dipusatkan pada peserta didik yang dimulai dengan landasan pemikiran bahwa orang-orang belajar terbaik itu dari pengalaman dan hal ini sesuai dengan ungkapan the experience is the best teacher. Kemudian, untuk pengalaman belajar yang benar-benar efektif, harus menggunakan seluruh roda belajar, dari pengaturan tujuan, melakukan observasi dan eksperimen, memeriksa ulang, dan perencanaan tindakan. Apabila proses ini telah dilalui memungkinkan peserta didik untuk belajar keterampilan baru, sikap baru atau bahkan cara berpikir baru.
 
Jadi, experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) adalah suatu bentuk kesengajaan yang tidak disengaja (unconsencious awareness). Contohnya, ketika peserta didik dihadapkan pada game Spider Web atau jaring laba-laba. Tugas kelompok adalah menyeberang jaring yang lubangnya pas dengan badan kita, namun tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh jaring tersebut. Tugas yang diberikan tidak akan berhasil dilakukan secara individual karena sudah diciptakan untuk dikerjakan bersama. Untuk mencapai kerja sama yang baik, pasti akan timbul yang namanya komunikasi antaranggota kelompok. Lalu, muncullah secara alami orang yang yang berpotensi menjadi seorang inisiator, leader, komunikator, ataupun karakter karakter lainnya. Contoh lainnya adalah ketika mendapat permasalahan uji coba amilum. Pada uji coba tersebut peserta didik yang disuruh praktik langsung akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang lebih daripada yang hanya memperhatikan saja.

Model Experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) menekankan dua pendekatan yang saling berkaitan dalam memahami pengalaman. Pengalaman konkret dan konseptualisasi abstrak, serta dua pendekatan dalam mengubah pengalaman; observasi reflektif dan eksperimentasi aktif. 
 
Experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) berisi tiga aspek, yaitu:
  • pengetahuan (konsep, fakta, dan informasi);
  • aktivitas (penerapan dalam kegiatan);
  • refleksi (analisis dampak kegiatan terhadap perkembangan individu).
Ketiganya merupakan kontribusi penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Relasi dari ketiganya dapat digambarkan sebagai berikut:
Model Pembelajaran Experiental Learning - www.gurnulis.id

Sementara itu, dalam merancang pelatihan experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman), ada empat tahapan yang harus dilalui, yaitu:
  1. Experiencing (tantangan pribadi atau kelompok);
  2. Reviewing (menggali individu untuk mengomunikasikan pembelajaran dari pengalaman yang didapat);
  3. Concluding (menggambarkan kesimpulan dan kaitan antara masa lalu dan sekarang);
  4. Planning (menerapkan hasil pembelajaran yang dialaminya).
Di dalam proses belajar dengan model experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman), pengajar berfungsi sebagai seorang fasilitator. Artinya, pengajar hanya memberikan arah (guide) tidak memberikan informasi secara sepihak dan menjadi sumber pengetahuan tunggal. Setelah peserta didik melakukan suatu aktivitas, selanjutnya peserta didik akan mengabstraksikan sendiri pengalamannya. Misalnya, apa yang dirasakan oleh mereka dalam menyelenggarakan pertunjukan, permasalahan yang dihadapi, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan apa yang dapat dipelajari untuk memperbaiki diri di masa depan. Jadi, pengajar lebih menggali pengalaman peserta itu sendiri. Untuk itu, kemampuan yang diperlukan untuk menjadi fasilitator adalah mengobservasi perilaku peserta didik, menghidupkan suasana aktif partisipatif, bersikap netral dan percaya atas kemampuan peserta didik untuk memecahkan persoalannya sendiri. Dengan demikian, pembelajaran dengan model ini akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga peserta didik lebih memahami manfaat ilmu yang dipelajarinya. Hal tersebut disebabkan peserta didik mempraktikkan dan belajar dari pengalamannya.
 
Model experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) sebagai pembelajaran dapat dilihat sebagai sebuah siklus yang terdiri dari dua rangkaian yang berbeda, memiliki daya tangkap dalam pemahaman dan memiliki tujuan yang berkelanjutan. Bagaimanapun, kesemua itu harus diintegrasikan dengan urutan untuk mempelajari apa yang terjadi. Daya tangkap dalam memahami sesuatu sangat dipengaruhi oleh pengamatan yang dialami lewat pengalaman, sementara tujuan yang berkelanjutan berhubungan dengan perubahan dari pengalaman. Komponen-komponen tersebut harus saling berhubungan untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, dapat disingkat sebagai berikut "pengamatan yang dilakukan sendirian tidak cukup dijadikan pembelajaran, harus dilakukan secara teperinci dan perubahan yang dilakukan sendiri tidak dapat mewakili yang dibutuhkan pembelajaran, untuk itu diperlukan perubahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran".
 
Model experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) mencoba menjelaskan mengapa pembelajaran lewat pendekatan pengalaman belajar berbeda dan mampu mencapai tujuan. Hal ini dibuktikan oleh berkembangnya kecakapan yang cukup baik yang dimiliki oleh beberapa individu setelah dibandingkan dengan individu lain.
 

Pengembangan Model Pembelajaran Experiental Learning atau Pembelajaran Berbasis Pengalaman

David Kolb, mengembangkan model experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) yang dapat digambarkan seperti berikut ini:
Model Pembelajaran Experiental Learning - www.gurnulis.id
Mengacu pada gambar siklus di atas, pada dasarnya pembelajaran model experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) ini sederhana dimulai dengan melakukan (do), refleksikan (reflect), dan kemudian penerapan (apply). Jika dielaborasi lagi maka akan terdiri dari lima langkah, yaitu mulai dari proses mengalami (experience), berbagi (share), analisis pengalaman tersebut (proccess), mengambil hikmah atau menarik kesimpulan (generalize), dan penerapan (apply). Begitu seterusnya kembali ke fase pertama alami. Siklus ini sebenarnya tidak pernah berhenti. Masing-masing tujuan dari rangkaian-rangkaian tersebut kemudian muncullah langkah-langkah dalam proses pembelajaran, yaitu concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization, dan active experimentation.
Model Pembelajaran Experiental Learning - www.gurnulis.id
Adapun penjabaran dari langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.
  • Concrete experience (feeling). Belajar dari pengalaman-pengalaman yang spesifik. Peka terhadap situasi.
  • Reflective observation (watching). Mengamati sebelum membuat suatu keputusan dengan mengamati lingkungan dari perspektif-perspektif yang berbeda. Memandang dari berbagai hal untuk memperoleh suatu makna.
  • Abstract conceptualization (thinking). Analisis logis dari gagasan-gagasan dan bertindak sesuai pemahaman pada suatu situasi.
  • Active experimentation (doing). Kemampuan untuk melaksanakan berbagai hal dengan orang-orang dan melakukan tindakan berdasarkan peristiwa. Termasuk di dalamnya adalah pengambilan risiko.
Peter Honey dan Alan Mumford mengembangkan sistem cara belajar mereka sebagai variasi pada model Kolb. Honey dan Mumford dari sistem mereka berkata sebagai berikut.
Kami mendeskripsikan tahapan dalam siklus pembelajaran yang berasal dari karya David Kolb. Kolb menggunakan kata-kata yang berbeda untuk menjelaskan tahapan dari siklus belajar dan empat gaya belajar....
Dalam ringkasan ini adalah penjelasan singkat dari empat tahap yang dikembangkan oleh Honey dan Mumford, yang secara langsung saling terkait karena berbeda dari model Kolb di mana cara belajar yang merupakan produk kombinasi pembelajaran tahapan siklus. Ciri khas dari presentasi Honey dan Mumford tentang gaya masing-masing tahapan pada lingkaran atau empat tahap berhubung dengan putaran arus diagram.
  • Having an Experience (Memiliki sebuah Pengalaman) tahap 1, dan Aktivis (gaya 1): "di sini dan sekarang", suka berteman, mencari tantangan dan pengalaman langsung, buka hati, bosan dengan pelaksanaan.
  • Reviewing the Experience (Meninjau kembali Pengalaman) tahap 2 dan Reflectors (gaya 2): "mundur", mengumpulkan data, merenungkan dan menganalisis, keterlambatan mencapai kesimpulan, mendengarkan sebelum berbicara, thoughtful.
  • Concluding from the Experience (menyimpulkan berdasarkan Pengalaman) tahap 3 dan Theorists (gaya 3): berpikir logis dalam hal melalui langkah beda mencernakan fakta menjadi jelas teori, tujuan akal, serta menolak subjektivitas dan kesembronoan.
  • Planning the next steps (Perencanaan langkah berikutnya) tahap 4 dan Pragmatists (gaya 4): mencari dan mencoba ide-ide baru, praktis, bawah ke-bumi, menikmati pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dengan cepat, bosan dengan diskusi panjang.
Dari tahapan di atas, ada kesamaan yang kuat antara Honey dan Mumford tahapan yang sesuai dan gaya belajar Kolb:
  • Activist = Accommodating.
  • Reflector = Diverging.
  • Theorist = Assimilating.
  • Pragmatist = Converging.
 

Langkah-langkah atau Sintaks Model Pembelajaran Experiental Learning atau Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Seperti halnya model pembelajaran lainnya, dalam menerapkan model experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman), guru harus memperbaiki prosedur agar pembelajarannya berjalan dengan baik. Hamalik mengungkapkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam model pembelajaran experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) adalah sebagai berikut.
  • Guru merumuskan secara saksama suatu rencana pengalaman belajar yang bersifat terbuka (open minded) mengenai hasil yang potensial atau memiliki seperangkat hasil-hasil tertentu.
  • Guru harus bisa memberikan rangsangan dan motivasi pengenalan terhadap pengalaman.
  • Peserta didik dapat bekerja secara individual atau bekerja dalam kelompok kelompok kecil atau keseluruhan kelompok di dalam belajar berdasarkan pengalaman.
  • Para peserta didik ditempatkan pada situasi-situasi nyata, maksudnya peserta didik mampu memecahkan masalah dan bukan dalam situasi pengganti.
  • Peserta didik aktif berpartisipasi di dalam pengalaman yang tersedia, membuat keputusan sendiri, dan menerima konsekuensi berdasarkan keputusan tersebut.
  • Keseluruhan kelas menyajikan pengalaman yang telah dituangkan ke dalam tulisan sehubungan dengan mata pelajaran tersebut untuk memperluas pengalaman belajar dan pemahaman peserta didik dalam melaksanakan pertemuan yang nantinya akan membahas bermacam-macam pengalaman tersebut.
Langkah-langkah di atas merupakan tahapan-tahapan model pembelajaran experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman). Namun, dalam pelaksanaannya perlu diawali dengan sesuatu yang dianggap menantang bagi peserta didik. Intinya adalah biarkan dulu mereka mengalami, merefleksikan, dan memaknai apa yang telah mereka pelajari.

Selain beberapa hal yang harus diperhatikan dalam model pembelajaran experiential learning di atas, guru juga harus memerhatikan metode belajar melalui pengalaman ini yang meliputi tiga hal berikut.
  • Strategi belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada peserta didik dan berorientasi pada aktivitas.
  • Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah proses belajar, dan bukan hasil belajar.
  • Guru dapat menggunakan strategi ini dengan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran experiential learning disusun dan dilaksanakan dengan berangkat dari hal-hal yang dimiliki oleh peserta didik. Prinsip ini pun berkaitan dengan pengalaman di dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan serta dalam cara-cara belajar yang biasa dilakukan oleh peserta didik.

Kelemahan Model Pembelajaran Experiental Learning atau Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Kelemahan dari model pembelajaran experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) adalah  sulit dimengerti sehingga masih sedikit yang mengaplikasikan model pembelajaran ini.

Kelebihan Model Pembelajaran Experiental Learning atau Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Kelebihan dari model pembelajaran experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) adalah adalah hasil dapat dirasakan bahwa pembelajaran lewat pengalaman lebih efektif dan dapat mencapai tujuan secara maksimal. Beberapa manfaat model experiential learning dalam membangun dan meningkatkan kerja sama kelompok antara lain adalah:
  • mengembangkan dan meningkatkan rasa saling ketergantungan antarsesama anggota kelompok;
  • meningkatkan keterlibatan dalam pemecahan masalah dan pengambilankeputusan; 
  • mengidentifikasi dan memanfaatkan bakat tersembunyi dan kepemimpinan;
  • meningkatkan empati dan pemahaman antarsesama anggota kelompok.
Sementara itu, manfaat model experiential learning secara individual antara lain adalah:
  • meningkatkan kesadaran akan rasa percaya diri;
  • meningkatkan kemampuan berkomunikasi, perencanaan, dan pemecahan masalah; 
  • menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi situasi yang buruk;
  • menumbuhkan dan meningkatkan rasa percaya antarsesama anggota kelompok;
  • menumbuhkan dan meningkatkan semangat kerja sama dan kemampuan untuk berkompromi;
  • menumbuhkan dan meningkatkan komitmen dan tanggung jawab;
  • menumbuhkan dan meningkatkan kemauan untuk memberi dan menerima bantuan;
  • mengembangkan ketangkasan, kemampuan fisik, dan koordinasi.

Kesimpulan

Tantangan yang terkait dengan penerapan model pembelajaran experiental learning (pembelajaran berbasis pengalaman) terkadang tidak mengenal kompromi. Untuk peserta didik, pengalaman yang akan diterima kadang membuat mereka merasa tegang dan juga menyenangkan. Idealnya, begitu mereka mulai memercayai dan berani untuk mencoba, mereka akan berhasil secara fisik dan emosional dan mengetahui bahwa sesuatu yang tampaknya tidak mungkin untuk dilakukan sebenarnya dapat dilakukan. Dengan demikian, model pembelajaran ini dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menantang dan menyenangkan.
 

Penutup

Demikianlah bahasan mengeni model pembelajaran experiental learning ya Sahabat Gurnulis. Semoga literatur ini bermanfaat. Salam literasi guru ndeso.
Munasifatut Thoifah Guru yang selalu ingin berbagi inspirasi.

Belum ada Komentar untuk "Model Pembelajaran Experiental Learning"

Posting Komentar

Iklan atas artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah artikel